MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Tim nasional Swiss menutup kampanye kualifikasi Piala Dunia 2026 tanpa satu pun kekalahan — capaian yang semakin memperkuat reputasi mereka sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa yang paling konsisten dan tak mudah ditaklukkan.
Dengan selisih gol +12 dari enam laga kualifikasi, mencetak 14 gol dan hanya kebobolan dua, Swiss membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim yang “hadir” di turnamen besar. Mereka datang untuk bersaing. Piala Dunia FIFA 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat akan menjadi penampilan keenam berturut-turut sekaligus ke-13 sepanjang sejarah mereka di turnamen paling bergengsi di dunia.
Perjalanan kualifikasi dimulai dengan kemenangan telak 4-0 atas Kosovo, di mana Breel Embolo tampil bersinar dengan dua gol. Swiss langsung menunjukkan karakter mereka — agresif di depan, disiplin di belakang. Tren itu berlanjut dengan kemenangan 3-0 atas Slovenia dan 2-0 atas Swedia, sebelum di putaran kedua mereka memperkuat dominasi dengan mengalahkan Swedia 4-1. Hasil imbang 0-0 di kandang Slovenia dan seri menghadapi Kosovo di laga pamungkas hanya mempertegas betapa solidnya lini pertahanan tim asuhan Murat Yakin.
Di balik konsistensi Swiss, ada sosok yang sudah lama menjadi jantung permainan mereka: Granit Xhaka. Kapten berusia 33 tahun yang kini membela Sunderland di Liga Primer Inggris ini adalah pemain dengan caps terbanyak dalam sejarah timnas Swiss. Xhaka bukan hanya pemimpin di lapangan — ia adalah pengatur ritme, penentu tempo, dan suara yang didengar di ruang ganti. Ini akan menjadi Piala Dunia keempatnya, sebuah pencapaian yang hanya bisa diraih segelintir pemain sepanjang masa.
Murat Yakin, pelatih yang mengarsiteki pencapaian ini, bukan orang baru dalam ekosistem sepak bola Swiss. Lahir di Basel, ia pernah merasakan panasnya lapangan bersama Grasshoppers, Fenerbahce, Stuttgart, dan Basel, mengemas 49 caps internasional sebagian besar sebagai gelandang bertahan. Karier kepelatihannya dimulai pada 2006, dan sejak mengambil alih kursi kepelatihan Swiss dari Vladimir Petkovic pada 2021, ia terus membuktikan diri sebagai salah satu pelatih paling cerdas di Eropa.


Tinggalkan Balasan