PUNGGAWASPORT, ROMA — Mimpi buruk itu kembali berulang. Timnas Italia sekali lagi gagal melangkah ke Piala Dunia, menjadikan ketidakhadiran mereka di turnamen akbar itu terjadi tiga kali berturut-turut — sebuah ironi pahit bagi bangsa yang namanya terukir empat kali di trofei paling bergengsi dalam sepak bola dunia.
Gli Azzurri, julukan yang dulu identik dengan ketangguhan dan keanggunan taktik di atas lapangan, kini terpaksa menyaksikan pesta akbar itu dari luar. Bagi jutaan penggemar Italia, kenyataan ini bukan sekadar mengecewakan — ini adalah luka yang menganga dan belum juga menemukan obatnya.
Kegagalan berulang ini sontak memantik gelombang kritik dari berbagai penjuru, terutama dari mereka yang pernah merasakan sendiri betapa sulitnya mengangkat trofi Piala Dunia. Para legenda angkat bicara, bukan semata-mata untuk melampiaskan kekecewaan, melainkan untuk membedah akar masalah yang diyakini sudah menggerogoti fondasi sepak bola Italia sejak lama.
Franco Baresi, bek legendaris yang namanya identik dengan kejayaan Italia di era 1980-an dan 1990-an, menyebut bahwa timnas telah kehilangan benang merahnya. Ia menggambarkan kondisi sepak bola Italia saat ini sebagai sebuah kapal yang berlayar tanpa peta — tidak ada filosofi yang kokoh, tidak ada arah pembinaan yang jelas. Dalam pandangannya, Italia dulu dikenal dunia karena disiplin taktik dan pertahanan yang nyaris tak tertembus. Namun kini, ciri khas itu perlahan memudar, terkikis oleh perubahan zaman yang tidak direspons dengan cukup sigap.


Tinggalkan Balasan