BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Sepuluh pemain Senegal di Piala Dunia 2026 lahir di Prancis — dan Rabu dini hari WIB, mereka akan menghadapi negeri kelahiran sendiri.

Laga Prancis vs Senegal pada fase grup Piala Dunia 2026, yang dijadwalkan bergulir Selasa malam waktu setempat atau Rabu (17/6/2026) dini hari WIB, bukan sekadar duel sepak bola biasa. Ini adalah pertemuan antara paspor dan darah, antara tanah kelahiran dan warisan leluhur.

Pape Thiaw, pelatih kepala Senegal, memiliki skuad yang unik. Dari deretan pemain Lions of Teranga, sepuluh di antaranya lahir di Prancis: Yehvann Diouf, Mamadou Sarr, Kalidou Koulibaly, Iliman Ndiaye, Edouard Mendy, Moussa Niakhate, Ibrahim Mbaye, Mory Diaw, Antoine Mendy, dan Pape Gueye. Mereka tumbuh di bawah langit Prancis, namun memilih berbaris di bawah panji Singa Teranga.

Cerita ini bukan baru. Sepak bola modern telah lama mengenal fenomena pemain dengan identitas ganda — mereka yang lahir di satu negara, namun memilih mewakili negara asal leluhur mereka. Dan dalam kasus Senegal, pilihan itu sering kali lahir dari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar strategi karier: darah dan kebanggaan keluarga.

Banyak dari sepuluh pemain itu pernah mengenakan jersey Les Bleus di level junior. Kalidou Koulibaly, kapten sekaligus simbol tim, bahkan pernah tampil di Piala Dunia U-20 tahun 2011 membela Prancis. Dalam turnamen itu, ia berbagi lapangan dengan nama-nama yang kelak menjadi bintang dunia — Antoine Griezmann, Francis Coquelin, dan Alexandre Lacazette.

Pape Gueye, gelandang Villarreal yang menjadi pahlawan dengan gol penentu di final Piala Afrika terakhir, juga pernah menjadi pemain reguler tim U-18 dan U-19 Prancis. Jalurnya menuju Senegal bukan keputusan impulsif — melainkan hasil dari perenungan panjang soal jati diri.

Yang paling muda dan paling menarik perhatian adalah Ibrahim Mbaye. Pemain berusia 18 tahun yang kini berseragam Paris Saint-Germain ini telah menjadi andalan di berbagai kelompok usia Prancis, dari U-16 hingga U-20. Namun Senegal bergerak lebih cepat dari Didier Deschamps. Sebelum pelatih Prancis itu sempat memanggil Mbaye ke tim senior, Lions of Teranga telah menawarkan tempat kepadanya untuk tampil di Piala Afrika. Mbaye menerima.

Langkah agresif semacam itu bukan tanpa preseden. Senegal punya rekam jejak meyakinkan dalam “merebut” pemain berbakat dari antrian panjang calon pemain Prancis.

Bouna Sarr adalah contoh yang kontras sekaligus menarik. Pada Mei 2018, pemain kelahiran Prancis dengan ayah asal Senegal dan ibu asal Guinea itu dengan tegas menolak tawaran Federasi Sepak Bola Senegal (FSF). “Bagi saya, saya ingin bermain untuk Prancis. Tidak ada yang lain. Saya selalu bermimpi bermain untuk tim Prancis,” ujarnya kepada radio RMC ketika itu. “Saya orang Prancis, saya lahir di sini, saya hanya tertarik pada Les Bleus.”

Namun mimpi itu terbentur realita. Pintu masuk ke timnas Prancis senior terlalu sempit, terlalu sesak dengan nama-nama besar. Tiga tahun berselang, pada September 2021, Bouna Sarr akhirnya menerima panggilan dari pelatih Senegal kala itu, Aliou Cissé, untuk kualifikasi Piala Dunia 2022. Ia tampil di setiap laga Piala Afrika 2021 dan menjadi bagian dari skuad yang mengangkat trofi juara dengan mengalahkan Mesir di final.

Kisah Koulibaly berbeda. Ia tidak butuh waktu lama untuk yakin. Tidak perlu melewati fase penolakan seperti Bouna Sarr. Sejak awal, ada sesuatu yang menariknya ke arah Senegal — dan ia menyebutnya sebagai rencana Tuhan.

“Saya selalu mengatakan bahwa saya adalah buah dari dua budaya, Prancis dan Senegal. Saya sangat bangga menjadi orang Prancis. Tetapi bagi saya, mewakili Senegal adalah rencana Tuhan,” kata Koulibaly.

Ia mengingat momen pada 2015, ketika Aliou Cissé baru saja mengambil alih kendali tim. Cissé meneleponnya langsung. “Kouli, kita akan memasuki siklus baru, dan kita membutuhkanmu. Kamu harus ikut bersama kami.” Koulibaly ketika itu masih pemain berusia 24 tahun yang lebih sering menghangatkan bangku cadangan Napoli daripada bermain.

Kepercayaan Cissé itulah yang menentukan segalanya. Koulibaly menerima tawaran itu, lalu menelepon orang tuanya untuk menyampaikan keputusannya. Dan apa yang terjadi berikutnya menjadi momen yang ia kenang sepanjang karier.

“Itu adalah satu-satunya saat dalam hidup saya di mana saya melihat mereka bersemangat tentang sepak bola,” kata Koulibaly. Orang tuanya, yang biasanya melihat pertandingan bola seolah hanya permainan anak-anak di halaman sekolah, tiba-tiba berubah. “Mereka terlalu akrab dengan kesulitan kehidupan nyata untuk terganggu oleh sebuah permainan. Tetapi ketika saya melakukan panggilan video dan memberitahu ayah saya bahwa saya akan mewakili Senegal, saya bisa melihat cahaya di matanya.”

Bagi Koulibaly, cahaya di mata ayahnya itu adalah jawaban yang tidak membutuhkan perdebatan lebih lanjut. Di antara dua pilihan — Prancis dan Senegal — ia memilih yang membuat orang tuanya bersinar.

“Saya mewakili negara saya bukan hanya tentang pertandingan sepak bola. Ini tentang darah saya, dan sejarah saya, dan impian orang tua saya,” katanya.

Maka pada Rabu dini hari nanti, ketika Koulibaly dan sembilan rekannya melangkah ke lapangan menghadapi Prancis, mereka bukan sekadar bermain sepak bola. Mereka sedang menunaikan sebuah janji — kepada leluhur, kepada keluarga, dan kepada darah yang mengalir dalam tubuh mereka.

Prancis boleh menjadi tempat mereka lahir. Tapi Senegal adalah tempat mereka memilih menjadi diri sendiri.

FAQ

Mengapa banyak pemain Senegal di Piala Dunia 2026 lahir di Prancis?

Banyak pemain Senegal lahir di Prancis karena orang tua mereka beremigrasi ke sana. Meskipun lahir dan besar di Prancis, mereka memilih mewakili Senegal atas dasar identitas keturunan, kebanggaan keluarga, dan keterikatan budaya dengan tanah leluhur.

Apakah pemain seperti Koulibaly pernah bermain untuk timnas Prancis?

Ya. Kalidou Koulibaly pernah membela Prancis di level junior, termasuk tampil di Piala Dunia U-20 tahun 2011 bersama Griezmann dan Lacazette. Namun ia kemudian memilih mewakili Senegal di level senior atas pertimbangan darah, keluarga, dan keyakinan pribadi.

Bagaimana FIFA mengatur aturan pemain yang berganti kebangsaan timnas?

FIFA memperbolehkan pemain untuk berganti afiliasi timnas selama mereka memenuhi syarat kebangsaan negara yang dipilih — baik melalui kelahiran, keturunan, atau tempat tinggal — dan belum pernah tampil di pertandingan kompetitif resmi FIFA untuk negara sebelumnya di level senior.



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026