Di balik kebangkitan Austria, nama Ralf Rangnick berdiri paling menonjol. Pelatih asal Jerman yang mulai memegang kendali tim nasional Austria sejak April 2022 ini membawa serta pengalaman puluhan tahun yang terakumulasi dari berbagai klub Eropa. Rangnick pernah membesut Schalke dalam dua periode berbeda, di mana ia mengantarkan Royal Blues meraih Piala Jerman 2010/11. Sebelumnya, ia juga melewati masa-masa penting bersama Stuttgart, Hannover, dan Hoffenheim.
Namun, warisan terbesar Rangnick tercipta di RB Leipzig. Selama periode 2012 hingga 2019, ia merancang transformasi luar biasa klub tersebut — dari liga regional hingga bersaing di papan atas Bundesliga. Rangnick dikenal luas sebagai salah satu perintis filosofi pressing modern yang kini banyak diadopsi oleh klub-klub elite dunia.
Setelah masa singkatnya sebagai pelatih sementara Manchester United, Rangnick menerima tantangan melatih tim nasional Austria. Hasilnya tak perlu diragukan lagi. Ia membawa Austria tampil gemilang di UEFA EURO 2024, dan kini mengulangi prestasi serupa di kualifikasi Piala Dunia. Bahkan tawaran menggiurkan dari Bayern Munich pun ia tolak demi melanjutkan misinya bersama Die Adler.
Di Piala Dunia 2026, Austria akan bergabung dalam grup yang penuh tantangan. Mereka akan menghadapi Yordania pada 16 Juni di San Francisco Bay Area Stadium, lalu berhadapan dengan Argentina — sang juara bertahan dua edisi — pada 22 Juni di Dallas, sebelum menutup fase grup melawan Aljazair pada 27 Juni di Kansas City. Melewati fase grup dari lawan sekelas Argentina jelas bukan perkara mudah, tetapi Austria datang bukan sekadar untuk berpartisipasi.
Secara historis, Austria memiliki rekam jejak yang layak dihormati di panggung Piala Dunia. Mereka telah tampil dalam tujuh edisi sebelumnya, dimulai dari Italia 1934 hingga Prancis 1998. Pencapaian terbaik mereka terjadi di Swiss 1954, ketika Austria berhasil meraih medali perunggu setelah menundukkan juara bertahan Uruguay 3-1 dalam laga perebutan tempat ketiga.


Tinggalkan Balasan