MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Kolombia punya kesempatan emas mengamankan tempat di babak 32 besar Piala Dunia 2026 lebih cepat dari perkiraan. Cukup dengan satu kemenangan lagi atas Republik Demokratik Kongo, Los Cafeteros bisa memastikan lolos tanpa harus menunggu hasil laga pamungkas yang berat melawan Portugal.
Pertandingan kedua Grup K ini akan berlangsung di Estadio Guadalajara, Meksiko, pada Rabu, 24 Juni 2026, mulai pukul 08.00 WIB. Publik Indonesia bisa menyaksikannya secara langsung melalui siaran TVRI Sport.
Di atas kertas, Kolombia datang dengan modal kepercayaan diri tinggi. Mereka membuka kampanye Piala Dunia dengan kemenangan telak 3-1 atas Uzbekistan, hasil yang langsung mengangkat mereka ke puncak klasemen Grup K.
Namun RD Kongo bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Tim asuhan Sebastien Desabre ini justru mencuri perhatian dunia lewat hasil imbang 1-1 melawan Portugal, salah satu favorit juara turnamen tahun ini.
Hasil tersebut bukan sekadar keberuntungan. Itu adalah poin pertama RD Kongo sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia, sebuah pencapaian yang membuktikan tim ini datang ke Meksiko bukan untuk menjadi penggembira.
Bagi Kolombia, kemenangan atas RD Kongo berarti dua hal sekaligus. Pertama, mereka mengunci posisi di 32 besar lebih awal. Kedua, mereka bisa menghadapi laga terakhir grup melawan Portugal dengan beban mental yang jauh lebih ringan.
Sebaliknya, RD Kongo punya peluang untuk membuat kejutan lebih besar. Jika mereka mampu mengalahkan Kolombia, Les Leopards bisa melompat ke puncak klasemen grup dan membalikkan seluruh prediksi yang ada.
Performa Kolombia sejauh ini menunjukkan ciri khas racikan Nestor Lorenzo. Pelatih asal Argentina itu membangun sistem permainan yang cair, di mana bola dan peran mengalir ke berbagai pemain tanpa terlalu bergantung pada satu sosok tunggal.
Pendekatan ini membuat peran kapten James Rodriguez di lapangan tengah perlahan bergeser. Pemain berusia 34 tahun itu kini lebih sering menjadi pengatur ritme ketimbang penentu tunggal jalannya permainan.
Namun di tengah filosofi kolektif itu, satu nama justru tampil sebagai pengecualian yang menentukan, Luis Diaz. Sayap kiri Kolombia ini seolah berada di luar skema “tanpa bintang” yang dirancang Lorenzo, karena kualitas individunya terlalu sulit untuk diabaikan.
Saat melawan Uzbekistan, Diaz membuktikan ketajamannya dengan mencetak satu gol dan memberikan satu assist. Kontribusi itu menegaskan dirinya sebagai pemain Kolombia paling berbahaya saat ini, sekaligus solusi instan ketika permainan kolektif tim menemui jalan buntu.
Meski menang besar di laga pembuka, sistem permainan Kolombia sejatinya masih punya catatan untuk diperbaiki. Kecepatan transisi dan ketajaman di depan gawang menjadi dua aspek yang perlu ditingkatkan menghadapi RD Kongo.
Tantangan ini menjadi lebih nyata karena RD Kongo dikenal memiliki barisan pertahanan sayap yang solid. Di sinilah kombinasi teknik, kecepatan, dan kelincahan Luis Diaz diproyeksikan menjadi senjata paling efektif untuk membongkar pertahanan rapat Les Leopards.
Dengan laga terakhir grup yang mempertemukan mereka dengan Portugal, Kolombia praktis tidak punya banyak ruang untuk berkompromi. Kemenangan atas RD Kongo bukan sekadar opsi, melainkan langkah strategis untuk memastikan nasib mereka tidak ditentukan di pertandingan paling berat sekalipun.
Di kubu lawan, performa RD Kongo melawan Portugal pantas mendapat pujian luas. Sebastien Desabre tidak hanya berhasil meredam agresivitas serangan Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan, tetapi juga menunjukkan efisiensi luar biasa dalam transisi dari bertahan ke menyerang.
Statistik pertandingan itu cukup menggambarkan keberhasilan strategi Desabre. Meski hanya menguasai bola sebesar 25 persen, RD Kongo justru melepaskan delapan tembakan dan mencatat angka harapan gol (xG) yang lebih tinggi dibandingkan Portugal.
Hasil imbang melawan tim sekaliber Portugal sudah menjadi pencapaian luar biasa bagi RD Kongo. Mengingat lawan terakhir mereka di fase grup adalah Uzbekistan, besar kemungkinan Desabre akan kembali menerapkan pendekatan serupa, yakni bertahan rapat sembari mengincar setidaknya satu poin dari Kolombia.
Namun strategi ini menyimpan risiko tersendiri. Uzbekistan telah membuktikan diri sebagai lawan yang sulit ditebak, dan mereka kemungkinan akan menganggap laga terakhir grup melawan RD Kongo sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa kelolosan mereka ke Piala Dunia bukan sekadar keberuntungan semata.
Dari sisi taktik, Desabre kemungkinan akan melakukan sejumlah penyesuaian dibandingkan laga melawan Portugal. Saat itu, RD Kongo tampil dengan formasi 5-3-2 yang sangat defensif untuk meredam tekanan tim peringkat atas dunia.
Menghadapi Kolombia, pelatih asal Prancis itu diperkirakan akan beralih ke skema empat bek, dengan kemungkinan memasukkan kembali Noah Sadiki ke susunan pemain utama. Perubahan ini bisa memberi RD Kongo lebih banyak opsi menyerang tanpa mengorbankan terlalu banyak keseimbangan di lini belakang.
Karakter permainan Kolombia yang fluid dan saling bergantian posisi sebenarnya berpotensi menyisakan celah di lini pertahanan mereka sendiri. Inilah ruang yang harus dieksploitasi maksimal oleh gelandang sayap kanan Yoane Wissa dan striker Cedric Bakambu jika RD Kongo ingin mengulang kejutan.
Pertarungan di Estadio Guadalajara nanti bukan hanya soal siapa yang lebih unggul secara materi pemain. Ini adalah pertemuan antara ambisi Kolombia untuk segera mengamankan tiket babak 32 besar dan tekad RD Kongo untuk membuktikan bahwa hasil imbang melawan Portugal bukanlah kebetulan.
Dengan wasit asal Italia, Maurizio Mariani, yang akan memimpin pertandingan, peluang kemenangan menurut prediksi sejumlah pengamat cenderung berimbang dengan keunggulan tipis di pihak Kolombia, sekitar 60-40. Namun di atas lapangan hijau, statistik dan prediksi sering kali hanya menjadi catatan pinggir belaka.
Susunan Pemain
KOLOMBIA (4-2-3-1):Â 12-Camilo Vargas; 2-Daniel Munoz, 23-Davinson Sanchez, 3-Jhon Lucumi, 17-Johan Mojica; 14-Gustavo Puerta, 16-Jefferson Lerma; 10-James Rodriguez, 11-Jhon Arias, 7-Luis Diaz; 25-Luis Suarez
Pelatih:Â Nestor Lorenzo (Argentina)
Cadangan:Â 24-Alvaro Montero, 1-David Ospina, 4-Santiago Arias, 18-Willer Ditta, 13-Yerry Mina, 22-Deiver Machado, 15-Juan Portilla, 20-Juan Quintero, 5-Kevin Castano, 6-Richard Rios, 8-Jorge Carrascal, 9-Jhon Cordoba, 26-Andres Gomez, 19-Juan Hernandez, 21-Jaminto Campaz
RD KONGO (4-5-1): 1-Lionel Mpasi; 2-Aaron Wan-Bissaka, 22-Chancel Mbemba, 4-Axel Tuanzebe, 26-Arthur Masuaku; 10-Theo Bongonda, 6-Ngal’ayel Mukau, 14-Noah Sadiki, 8-Samuel Moutoussamy, 20-Yoane Wissa; 17-Cedric Bakambu
Pelatih:Â Sebastien Desabre (Prancis)
Cadangan:Â 21-Matthieu Epolo, 16-Timothy Fayulu, 5-Dylan Batubinsika, 24-Gedeon Kalulu, 12-Joris Kayembe Ditu, 15-Aaron Tshibola, 9-Brian Cipenga, 18-Charles Pickel, 19-Fiston Mayele, 11-Gael Kakuta, 13-Meschack Elia, 7-Nathanael Mbuku, 23-Simon Banza
FAQ
Kapan pertandingan Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026 digelar?
Pertandingan akan berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026, mulai pukul 08.00 WIB di Estadio Guadalajara, Meksiko, dan disiarkan langsung melalui TVRI Sport.
Apa keuntungan Kolombia jika menang melawan RD Kongo?
Kemenangan akan membuat Kolombia mengunci posisi lolos ke babak 32 besar lebih cepat, sehingga mereka bisa menghadapi laga terakhir grup melawan Portugal tanpa beban harus mengejar hasil tertentu.
Mengapa hasil imbang RD Kongo melawan Portugal dianggap istimewa?
Hasil itu menjadi poin pertama RD Kongo dalam sejarah Piala Dunia, dan dicapai meski mereka hanya menguasai bola 25 persen sepanjang pertandingan melawan salah satu tim favorit juara.


Tinggalkan Balasan