MEKSIKO, PUNGGAWASPORT – Sabri Lamouchi tidak punya banyak waktu untuk merenung. Hanya dalam hitungan jam setelah Tunisia dihajar Swedia 1-5 dalam laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026, Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) langsung mengeluarkan keputusan mengejutkan: pelatih berusia 54 tahun itu dipecat.
Federasi Sepakbola Tunisia pecat pelatih Sabri Lamouchi setelah kalah 1-5 dari Swedia di laga pertama Piala Dunia 2026
— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLive) June 15, 2026
😲😮 pic.twitter.com/cjPjNJOvZR
Pemecatan yang diumumkan pada Senin, 15 Juni 2026 itu seketika mencatatkan nama Lamouchi dalam sejarah—bukan dengan cara yang membanggakan. Ia menjadi pelatih pertama dalam sejarah Piala Dunia yang didepak usai hanya menjalani satu pertandingan di turnamen akbar tersebut.
Kekalahan dari Swedia memang bukan sekadar angka. Lima gol bersarang ke gawang Tunisia dari kaki-kaki tajam Yasin Ayari yang mencetak dua gol pada menit ke-7 dan ke-90, Alexander Isak pada menit ke-30, Viktor Gyokeres di menit ke-59, dan Mattias Svanberg pada menit ke-84. Tunisia hanya mampu membalas satu gol. Malam itu, Eagles of Carthage tampil jauh dari kata layak.
Lamouchi sendiri tidak menyangkal betapa beratnya kekalahan tersebut. Usai laga, ia mengakui timnya membuat terlalu banyak kesalahan dan menyebut hasil itu sebagai sesuatu yang menyakitkan. “Kami memiliki harga diri. Kami harus bereaksi,” ujarnya saat itu—pernyataan yang ternyata tidak sempat ia buktikan di lapangan.
Presiden FTF Wajdi Aouadi menjelaskan bahwa keputusan pemecatan diambil setelah evaluasi menyeluruh dari berbagai aspek. Penampilan tim pada laga pertama dinilai tidak memenuhi standar kualitas, semangat juang, maupun strategi taktik yang diharapkan federasi.
“Kami melihat ketidaksesuaian antara apa yang kami inginkan dengan apa yang kami miliki dalam skuad saat ini,” kata Aouadi. Pernyataan itu cukup tegas: bukan hanya soal skor, tapi soal arah keseluruhan tim yang dianggap tidak sejalan.
Lebih jauh, Aouadi juga mengungkap adanya ketegangan internal. Hubungan antara Lamouchi dan sejumlah pemain disebutkan memanas terkait peran di lapangan. Metode latihan sang pelatih pun dikritik, dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan skuad, dan pada akhirnya merusak atmosfer tim secara keseluruhan.
Lamouchi baru bergabung dengan Tunisia pada 14 Januari 2026. Kontraknya dirancang hingga 31 Juli 2028—sebuah komitmen jangka panjang yang kini berakhir jauh lebih cepat dari yang direncanakan. Lima bulan lebih sedikit. Lima pertandingan. Dan hanya satu kemenangan.
Rekam jejaknya bersama Tunisia memang tidak meyakinkan sejak awal. Dari lima laga yang dijalani, Tunisia meraih satu kemenangan, satu hasil imbang, dan tiga kekalahan. Satu-satunya kemenangan datang dari laga uji coba kontra Haiti pada akhir Maret 2026—lawan yang jauh dari ukuran kompetitif internasional.
Sebelum tampil di Piala Dunia, Tunisia juga tidak menunjukkan tanda-tanda kesiapan yang meyakinkan. Mereka kalah telak 0-5 dari Belgia pada 6 Juni, lalu menelan kekalahan 0-1 dari Austria, dan hanya bermain imbang 0-0 lawan Kanada. Hasil-hasil itu seharusnya menjadi peringatan keras, namun Tunisia tetap melaju ke Amerika Utara tanpa perubahan di bangku pelatih.
Kekalahan 0-5 dari Belgia sebelum turnamen seolah menjadi bayangan buruk yang lalu berulang. Ketika Swedia menjebol gawang Tunisia untuk kelima kalinya di malam yang sama gelap itu, federasi rupanya sudah cukup menyaksikan.
Ini bukan kali pertama Tunisia memecat pelatih di tengah Piala Dunia. Pada edisi 1998 di Prancis, mereka juga memutus kontrak Henry Kasperczak setelah dua kekalahan beruntun di fase grup. Sejarah rupanya berulang, dengan cara yang sama menyakitkannya.
Untuk mengisi kekosongan posisi pelatih, FTF dikabarkan akan menunjuk Mondher Kebaier sebagai pelatih sementara. Kebaier bukan nama asing di lingkungan sepak bola Tunisia—ia pernah menangani tim nasional sebelumnya dan dianggap paham betul karakter skuad Eagles of Carthage.
Tugas yang menantinya tidaklah ringan. Tunisia masih harus menjalani dua laga tersisa di fase grup Piala Dunia 2026, sementara kondisi kepercayaan diri tim bisa dipastikan sedang berada di titik terendah. Kebaier harus cepat membangun ulang moral pemain, memperbaiki soliditas pertahanan, dan mencari cara untuk membuat Tunisia kembali kompetitif dalam waktu sangat singkat.
Bagi Lamouchi, kisah Tunisia berakhir dengan cara paling pahit yang bisa dibayangkan seorang pelatih: dipecat bukan di akhir musim, bukan setelah rangkaian panjang kegagalan, melainkan satu hari setelah peluit panjang berbunyi di pertandingan pertamanya di panggung terbesar sepak bola dunia.
FAQ
Mengapa Sabri Lamouchi dipecat dari Tunisia?
Lamouchi dipecat oleh Federasi Sepak Bola Tunisia setelah timnya kalah telak 1-5 dari Swedia di laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026. Federasi menilai penampilan tim tidak memenuhi standar yang diharapkan, dan juga ada ketegangan internal antara pelatih dan pemain.
Siapa pengganti Sabri Lamouchi sebagai pelatih Tunisia?
FTF dikabarkan akan menunjuk Mondher Kebaier sebagai pelatih sementara untuk memimpin Tunisia di sisa pertandingan Piala Dunia 2026.
Apakah Tunisia pernah memecat pelatih di Piala Dunia sebelumnya?
Ya. Tunisia pernah melakukan hal serupa pada Piala Dunia 1998 di Prancis, ketika mereka memecat pelatih Henry Kasperczak setelah dua kekalahan di fase grup.


Tinggalkan Balasan