Korea Selatan datang bukan sebagai tim yang patut diremehkan. Taeguk Warriors membuka turnamen dengan cara yang dramatis—menumbangkan Republik Ceko 2-1 meski sempat tertinggal hampir satu jam. Gol sundulan Ladislav Krejci sempat membuat mereka tertekan, tetapi Hwang In-Beom tampil sebagai penyelamat dengan mencetak gol penyeimbang sekaligus memberikan asis untuk gol penentu Oh Hyeon-Gyu.
Kemampuan bangkit dari ketertinggalan itu bukan kebetulan. Korea Selatan kini tengah dalam performa terbaiknya—meraih tiga kemenangan berturut-turut, enam kemenangan dari delapan laga terakhir, dan menunjukkan mentalitas juara yang sulit digoyahkan.
Namun ada satu hambatan psikologis yang menghantui Taeguk Warriors. Mereka belum pernah mengalahkan Meksiko sejak Februari 2006—tiga kekalahan dan satu hasil imbang dalam rentang waktu hampir dua dekade. Pertemuan terakhir kedua tim berakhir 2-2 pada September 2025, dengan gol dramatis Santiago Gimenez di menit ke-94 yang memaksa Korea Selatan melepas kemenangan di ujung laga.
Statistik itu menjadi pekerjaan rumah sekaligus motivasi tersendiri bagi tim asuhan Hong Myung-Bo.
Meksiko punya keuntungan yang sulit dikuantifikasi: dukungan suporter. Ketika menghadapi Afrika Selatan di Stadion Azteca, suasana meriah tuan rumah terbukti memberikan tekanan luar biasa kepada Bafana Bafana—berujung frustrasi, dua kartu merah, dan kekalahan. Estadio Guadalajara tidak akan kalah panas.


Tinggalkan Balasan