SALZBURG, PUNGGAWASPORT – Kabar duka menyelimuti jagat sepak bola internasional. Mantan penjaga gawang Arsenal, Alex Manninger, meninggal dunia dalam kecelakaan di jalur kereta api di wilayah Salzburg, Austria, Kamis, 16 April 2026. Ia wafat pada usia 48 tahun.
Ucapan duka datang dari berbagai kalangan, termasuk legenda Arsenal, David Seaman. Ia mengenang Manninger sebagai sosok penjaga gawang berbakat sekaligus sahabat dekat. Seaman menyebut kepergian Manninger sebagai kabar yang sangat menyakitkan, mengingat kontribusinya yang besar saat memperkuat Arsenal di akhir 1990-an.
Manninger bergabung dengan Arsenal saat masih berusia 20 tahun dan mencatatkan performa impresif, khususnya pada musim 1997/1998. Kala itu, ia tampil gemilang menggantikan Seaman dan berperan penting dalam keberhasilan klub meraih gelar ganda Liga Inggris dan Piala FA. Penampilannya yang menonjol, termasuk saat mencatat clean sheet penting melawan Manchester United di Old Trafford serta penyelamatan penalti krusial di ajang Piala FA, membuat namanya dikenang oleh para pendukung.
Selama lima musim berseragam Arsenal, Manninger mencatatkan 64 penampilan. Setelah itu, kariernya berlanjut ke sejumlah klub Eropa, termasuk Espanyol dan beberapa tim di Italia seperti Torino, Bologna, Siena, serta Juventus. Bersama Juventus, ia turut merasakan gelar Serie A. Pada 2016, ia sempat bergabung dengan Liverpool, meski tidak tampil dalam pertandingan resmi.
Di level internasional, Manninger juga menjadi bagian dari tim nasional Austria dengan torehan 33 caps sepanjang kariernya.
Ungkapan belasungkawa mengalir dari berbagai klub yang pernah ia bela. Arsenal melalui media sosial resminya menyatakan duka mendalam atas kepergian sang mantan kiper. Sementara Juventus mengenangnya sebagai pribadi dengan karakter langka—rendah hati, penuh dedikasi, dan menjunjung tinggi profesionalisme.
Mantan rekan setimnya di Juventus, Gianluigi Buffon, turut menyampaikan penghormatan emosional. Ia mengenang Manninger sebagai sosok sederhana yang mencintai alam, keluarga, dan kehidupan yang jauh dari sorotan gemerlap sepak bola.
Seaman menutup kenangannya dengan cerita personal. Ia mengingat kebersamaan mereka di luar lapangan, termasuk momen memancing yang kerap mereka jalani bersama. Baginya, Manninger bukan sekadar rekan setim, melainkan sahabat sejati. Ia pun menyampaikan doa dan simpati bagi keluarga yang ditinggalkan.


Tinggalkan Balasan