NAGOYA, PUNGGAWASPORT – Olahraga baru belum tentu berarti prestasi terlambat datang. Buktinya, Indonesia langsung mencatatkan nama dalam sejarah teqball Asia lewat dua medali sekaligus di ajang Asian Games 2026 yang digelar di Nagoya-Aichi, Jepang.
Sumaya dan Yoga Ardika Putra menjadi pahlawan baru Indonesia di arena teqball. Pada Minggu, 20 September 2026, Sumaya menyabet medali perak, sementara Yoga mengamankan perunggu dalam debut teqball pertama di panggung Asian Games. Pencapaian ini bukan sekadar angka di papan medali, melainkan tonggak sejarah yang menandai kehadiran Indonesia dalam olahraga yang baru resmi diperkenalkan kurang dari dua dekade lalu.
Bagi yang belum akrab, teqball adalah perpaduan unik antara sepak bola dan tenis meja. Olahraga ini dimainkan di atas meja dengan permukaan melengkung, di mana para pemain saling mengirimkan bola menggunakan kaki, bukan tangan. Konsepnya sederhana, namun dibutuhkan kelincahan, teknik, dan konsentrasi tinggi untuk menguasainya.
Teqball lahir di Hungaria pada 2012, digagas oleh sekelompok pecinta sepak bola yang ingin menciptakan sesuatu yang baru. Setelah dua tahun penyempurnaan aturan dan peralatan, olahraga ini diperkenalkan secara resmi ke publik dunia pada 2014. Terbilang muda untuk ukuran olahraga, namun perkembangannya luar biasa cepat hingga kini hadir di salah satu pesta olahraga terbesar Asia.
Asian Games 2026 di Nagoya-Aichi menjadi panggung perdana teqball dalam sejarah Asian Games. Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi langsung pulang membawa medali. Sebuah catatan yang sulit diabaikan, mengingat banyak negara Asia lain yang lebih dulu mengenal olahraga ini.
Yoga Ardika Putra, sang peraih perunggu, mengaku tak menyembunyikan harapan besarnya pascaperhelatan ini. Ia ingin momentum Asian Games menjadi titik balik bagi perkembangan teqball di tanah air. Dukungan penuh dari pemerintah dan federasi, menurutnya, adalah kunci agar teqball Indonesia tidak berhenti di sini.
“Dengan hasil kita, target medali ini tercapai. Ke depannya, semoga mendapat dukungan penuh untuk federasi teqball di Indonesia agar ke depannya lebih berkembang,” ungkap Yoga usai pertandingan.
Sementara itu, Sumaya tampil dengan semangat yang tak kalah membara. Meski harus puas dengan perak setelah kalah di partai final, ia memandang capaian ini sebagai buah dari kerja keras panjang yang tidak ternilai harganya. Debut di panggung Asian Games, baginya, adalah pengalaman yang jauh melampaui sekadar angka di papan skor.
“Walaupun kalah, saya tetap bangga sama diri saya sendiri dan usaha saya selama ini. Ini debut pertama saya di Asian Games dan perjuangannya sungguh luar biasa,” tutur Sumaya dengan mata berbinar.
Keberhasilan di Nagoya-Aichi ini sesungguhnya bukan kejutan bagi mereka yang mengikuti perkembangan teqball Indonesia. Jauh sebelum Asian Games 2026, para atlet Merah Putih sudah menunjukkan tajinya di berbagai kompetisi internasional bergengsi.
Pada SEA Games Bangkok 2025, ganda putra Indonesia Husni Uba dan La Ode Mardan menorehkan prestasi gemilang. Keduanya berhasil mempersembahkan medali perak dengan mengalahkan tuan rumah Thailand dalam partai final, sebuah kemenangan yang mengejutkan banyak pihak sekaligus menegaskan kekuatan teqball Indonesia di level Asia Tenggara.
Tidak berhenti di Asia Tenggara, nama Indonesia juga menggema di kancah teqball dunia. Masih di tahun 2025, Sumaya kembali menjadi andalan saat turun di World Tour Teqball Championship Bangkok 2025. Bersama pasangan asal Hungaria, Gabriella Kota, ia meraih medali perunggu di kategori ganda putri.
Yang membuat pencapaian itu semakin berharga adalah lawan yang dihadapi Sumaya di Bangkok bukan sembarangan. Ia bersua dengan ganda Thailand, J. Kuntatong dan S. Wongkhamchan, yang dikenal sebagai salah satu pasangan paling dominan di teqball dunia. Namun Sumaya tidak gentar dan membawa pulang medali.
Rentetan prestasi ini membuktikan bahwa kebangkitan teqball Indonesia bukan kebetulan. Ada sistem pembinaan yang berjalan, ada atlet yang berlatih keras, dan ada ambisi yang jelas untuk terus bersaing di level dunia.
PascaAsian Games 2026, mesin teqball Indonesia tidak lantas berhenti. Sumaya dan pelatihnya langsung memasuki fase evaluasi menyeluruh untuk mengidentifikasi kekurangan dan memperkuat persiapan menuju kompetisi internasional berikutnya. Tidak ada waktu untuk beristirahat terlalu lama ketika masih banyak podium yang menunggu untuk ditaklukkan.
Langkah Indonesia dalam teqball dunia seolah baru saja dimulai. Dengan fondasi prestasi yang kian kokoh dan generasi atlet muda yang haus pencapaian, bukan tidak mungkin nama Indonesia akan semakin sering bergema di puncak podium teqball dunia dalam tahun-tahun mendatang.
“Target berikutnya mungkin event internasional selanjutnya, terima kasih masyarakat Indonesia atas doa dan dukungannya,” pungkas Sumaya, menutup euforia Asian Games dengan penuh semangat untuk babak berikutnya.


Tinggalkan Balasan