BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Enam puluh tahun adalah waktu yang lama untuk menunggu. Namun bagi Inggris, penantian itu tetap terasa hidup — dan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara menjadi panggung berikutnya untuk mewujudkan mimpi yang telah lama tertunda.

The Three Lions resmi memastikan tiket ke putaran final FIFA World Cup 2026 pada Oktober 2025, menjadi negara Eropa pertama yang lolos dalam siklus kualifikasi kali ini. Pencapaian itu diraih dengan dua laga tersisa di tangan — sebuah dominasi penuh yang mencerminkan betapa solidnya skuad asuhan Thomas Tuchel sepanjang babak kualifikasi.

Di grup yang beranggotakan Serbia, Albania, Latvia, dan Andorra, Inggris tampil tanpa kompromi. Enam laga awal mereka menangkan semua tanpa sekalipun kebobolan. Total delapan kemenangan dari delapan pertandingan, dengan 22 gol tercipta dan nol kebobolan — statistik yang berbicara lebih keras dari kata-kata manapun.

Turnamen akbar ini akan digelar untuk pertama kalinya di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Inggris ditempatkan di grup yang cukup terbuka, dengan jadwal fase grup melawan Kroasia di Dallas (17 Juni), Ghana di Boston (23 Juni), dan Panama di New York/New Jersey (27 Juni). Ini adalah penampilan ke-17 Inggris di Piala Dunia, sekaligus yang kedelapan berturut-turut — konsistensi yang patut diapresiasi.

Di balik konsistensi itu, ada sosok baru di bangku kepelatihan. Thomas Tuchel, pelatih asal Jerman, resmi menggantikan Gareth Southgate yang mundur setelah EURO 2024. Tuchel dikukuhkan pada Oktober 2024 dan mulai bertugas penuh pada Januari 2025. Ia menjadi pelatih asing ketiga dalam sejarah tim nasional Inggris — sebuah keputusan yang sempat menuai perdebatan, namun terbukti efektif lewat hasil kualifikasi yang gemilang.

Rekam jejak Tuchel memang tidak perlu diragukan. Dari Mainz, ia melangkah ke Borussia Dortmund, lalu Paris Saint-Germain, Chelsea — tempat ia meraih trofi Liga Champions — dan Bayern Munich. Seperti Jurgen Klopp yang lebih dulu dikenal dunia, Tuchel adalah representasi terbaik dari sekolah sepak bola Jerman yang terstruktur, taktis, dan adaptif.

Namun cerita Inggris di Piala Dunia tidak bisa dilepaskan dari satu tahun yang telah menjadi legenda abadi: 1966. Di Wembley, di hadapan lebih dari 96.000 penonton, Inggris mengangkat trofi Jules Rimet untuk satu-satunya kali dalam sejarah mereka.

Di bawah arahan Alf Ramsey, skuad yang dijuluki the wingless wonders itu menampilkan sepak bola yang pragmatis namun mematikan. Formasi 4-3-3 sempit mereka membingungkan lawan demi lawan. Bobby Moore memimpin dari belakang dengan karisma seorang kapten sejati. Bobby Charlton mengalirkan permainan dari tengah. Dan Gordon Banks berdiri kokoh di bawah mistar.

Final melawan Jerman Barat menjadi laga yang tak terlupakan sepanjang masa. Tertinggal, menyamakan, kembali unggul, lalu kembali disamakan — drama yang membuat jantung penonton sedunia berpacu. Geoff Hurst menjawab segalanya dengan dua gol di babak tambahan waktu. Golnya yang ketiga — yang menembus garis gawang setelah membentur mistar, dengan kontroversi yang masih diperdebatkan hingga hari ini — mengukuhkannya sebagai satu-satunya pemain yang mencetak hat-trick dalam final Piala Dunia, sebuah rekor yang baru disamai Kylian Mbappe 56 tahun kemudian.

Sejak 1966, Inggris beberapa kali mendekati puncak namun selalu gagal di saat-saat krusial. Pada Italia 1990, mereka tersisih di semi-final lewat adu penalti melawan Jerman Barat — sebuah adegan yang membuat seluruh Inggris menangis bersama Paul Gascoigne yang meneteskan air matanya di lapangan. Pada Rusia 2018, euforia sempat menggelora ketika mereka menembus semi-final untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, sebelum akhirnya tumbang dari Kroasia.

Di Qatar 2022, giliran Harry Kane yang menanggung beban. Kapten Inggris itu gagal mengeksekusi penalti krusial di perempat final melawan Prancis — tendangannya melambung melampaui mistar ketika skor menunjukkan 2-1 untuk Prancis. Mimpi mereka pun terhenti sekali lagi di delapan besar.

Berbicara soal Kane, striker Bayern Munich itu kini telah mengoleksi delapan gol di putaran final Piala Dunia — hanya dua gol di belakang Gary Lineker yang masih menjadi pencetak gol terbanyak Inggris sepanjang masa di kompetisi ini dengan torehan sepuluh gol. Lineker meraih Sepatu Emas di Meksiko 1986 dengan enam gol, termasuk hat-trick ke gawang Polandia. Piala Dunia 2026 bisa menjadi kesempatan Kane untuk melewati rekor itu.

Di sisi lain, nama Peter Shilton tercatat sebagai pemain Inggris dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia — 17 laga. Yang menakjubkan, penampilan pertamanya baru datang saat ia berusia 32 tahun, di Spanyol 1982. Ia terus menjaga gawang Inggris hingga laga perebutan tempat ketiga di Italia 1990, saat usianya sudah menyentuh 40 tahun.

Kemenangan terbesar Inggris di Piala Dunia sendiri terjadi di Rusia 2018, ketika mereka menggilas Panama 6-1. John Stones mencetak dua gol lewat sundulan, Kane menyelesaikan hat-trick, dan Jesse Lingard merobek jala dengan tembakan jarak jauh yang spektakuler. Inggris menutup babak pertama dengan skor 5-0 — yang menjadikan mereka tim pertama yang mencapai keunggulan sebesar itu di fase grup sejak Polandia melibas Haiti pada 1974.

Kini, dengan Tuchel di kursi pelatih, generasi baru pemain berbakat, dan beban sejarah yang tidak pernah benar-benar hilang, Inggris datang ke Amerika Utara bukan hanya untuk berpartisipasi.

Mereka datang untuk mengakhiri 60 tahun penantian.

FAQ

Kapan dan di mana Inggris akan bertanding di fase grup Piala Dunia 2026?

Inggris dijadwalkan menghadapi Kroasia di Dallas pada 17 Juni, Ghana di Boston pada 23 Juni, dan Panama di New York/New Jersey pada 27 Juni 2026.

Siapa pelatih Inggris di Piala Dunia 2026 dan apa latar belakangnya?

Thomas Tuchel, pelatih asal Jerman, ditunjuk pada Oktober 2024 menggantikan Gareth Southgate. Ia dikenal lewat prestasi bersama Borussia Dortmund, PSG, Chelsea, dan Bayern Munich sebelum memimpin The Three Lions.

Berapa kali Inggris tampil di Piala Dunia dan apa pencapaian terbaik mereka?

Piala Dunia 2026 adalah penampilan ke-17 Inggris di turnamen ini. Pencapaian terbaik mereka adalah juara pada 1966 saat menjadi tuan rumah, dengan mengalahkan Jerman Barat 4-2 di Wembley.



Follow Widget