BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWASPORT, ROMA — Mimpi buruk itu kembali berulang. Timnas Italia sekali lagi gagal melangkah ke Piala Dunia, menjadikan ketidakhadiran mereka di turnamen akbar itu terjadi tiga kali berturut-turut — sebuah ironi pahit bagi bangsa yang namanya terukir empat kali di trofei paling bergengsi dalam sepak bola dunia.

Gli Azzurri, julukan yang dulu identik dengan ketangguhan dan keanggunan taktik di atas lapangan, kini terpaksa menyaksikan pesta akbar itu dari luar. Bagi jutaan penggemar Italia, kenyataan ini bukan sekadar mengecewakan — ini adalah luka yang menganga dan belum juga menemukan obatnya.

Kegagalan berulang ini sontak memantik gelombang kritik dari berbagai penjuru, terutama dari mereka yang pernah merasakan sendiri betapa sulitnya mengangkat trofi Piala Dunia. Para legenda angkat bicara, bukan semata-mata untuk melampiaskan kekecewaan, melainkan untuk membedah akar masalah yang diyakini sudah menggerogoti fondasi sepak bola Italia sejak lama.

Franco Baresi, bek legendaris yang namanya identik dengan kejayaan Italia di era 1980-an dan 1990-an, menyebut bahwa timnas telah kehilangan benang merahnya. Ia menggambarkan kondisi sepak bola Italia saat ini sebagai sebuah kapal yang berlayar tanpa peta — tidak ada filosofi yang kokoh, tidak ada arah pembinaan yang jelas. Dalam pandangannya, Italia dulu dikenal dunia karena disiplin taktik dan pertahanan yang nyaris tak tertembus. Namun kini, ciri khas itu perlahan memudar, terkikis oleh perubahan zaman yang tidak direspons dengan cukup sigap.

Senada dengan itu, kiper legendaris Dino Zoff yang memimpin Italia meraih gelar juara dunia pada 1982 menilai bahwa persoalan regenerasi menjadi duri yang terus menancap. Ia mengakui bahwa bakat-bakat muda tetap ada di negeri pizza itu, namun sistem yang berjalan tidak cukup mampu memoles mereka hingga mencapai standar yang selama ini menjadi kebanggaan timnas.

Salah satu penyebabnya adalah sedikitnya menit bermain yang tersedia bagi pemain lokal di kompetisi domestik, yang kini semakin padat dihuni oleh pemain asing. Akibatnya, ketika timnas membutuhkan darah segar, stok pemain berkualitas yang betul-betul siap tampil di level tertinggi tidak memadai.

Sementara itu, Carolina Morace membawa perspektif yang berbeda namun sama tajamnya. Pelatih dan mantan pemain internasional ini menyoroti dimensi psikologis yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, kegagalan yang terus berulang secara perlahan menciptakan beban mental yang kian berat di pundak para pemain.

Ketika warisan sejarah yang begitu besar menjadi bayang-bayang, tekanan yang muncul bisa berbalik menjadi racun jika tidak dikelola dengan bijak. Inilah yang kerap terlihat saat Italia bertanding di laga-laga krusial — tim tampil ragu, gagal mengeksekusi peluang, dan jatuh di bawah ekspektasi.

Namun kritik tidak berhenti pada aspek teknis dan mental semata. Para pengamat sepak bola juga mengarahkan sorotan tajam ke federasi dan struktur manajemen sepak bola Italia secara keseluruhan. Banyak pihak menilai bahwa keputusan-keputusan strategis yang diambil oleh para pemangku kebijakan cenderung tidak progresif, terlambat merespons dinamika sepak bola modern yang berubah dengan sangat cepat.

Sistem pembinaan yang kurang inovatif, minimnya investasi jangka panjang, serta kecenderungan bergantung pada nama-nama besar tanpa melakukan pembaruan struktural disebut-sebut sebagai faktor-faktor yang membuat Italia tertinggal dibanding negara-negara lain yang lebih adaptif.

Di sisi lain, perkembangan sepak bola dunia yang begitu pesat juga menjadi konteks yang tidak bisa diabaikan. Sepak bola modern tidak lagi menghargai kebekuan gaya bermain. Ia menuntut kecepatan adaptasi, fleksibilitas taktik, dan kreativitas yang tinggi — elemen-elemen yang dinilai belum sepenuhnya terinternalisasi dalam DNA permainan Italia saat ini. Baresi sendiri menekankan bahwa transformasi adalah keharusan, namun harus dilakukan tanpa mengorbankan identitas yang selama ini menjadi kekuatan sejati Gli Azzurri.

Meski kritik yang terlontar terasa begitu pedas, para pundit ini tidak hadir sekadar untuk menjatuhkan. Mereka turut menawarkan peta jalan menuju kebangkitan. Penguatan pembinaan pemain sejak usia belia, pembukaan ruang yang lebih lebar bagi pemain lokal untuk berkembang di liga domestik, reformasi federasi agar lebih transparan dan modern, serta pembangunan filosofi permainan yang konsisten — semuanya disebut sebagai fondasi yang harus diletakkan sekarang jika Italia ingin kembali bersaing di pentas dunia.

Kegagalan tiga kali beruntun ini memang menyakitkan. Tetapi lebih dari sekadar kekalahan, ini adalah cermin yang memaksa Italia untuk jujur melihat wajahnya sendiri. Sejarah gemilang adalah warisan yang membanggakan, namun ia tidak bisa menjadi jaminan tanpa kerja keras, perubahan nyata, dan keberanian untuk bertransformasi. Italia pernah menaklukkan dunia — dan banyak yang percaya, dengan langkah yang tepat, panggung itu masih bisa kembali dijangkau.