Gaya permainan agresif bertenaga tinggi yang ia terapkan diharapkan mampu mengubah Kanada menjadi tim yang tidak hanya bermain kompetitif, tetapi juga berbahaya. Persis seperti yang sempat ditunjukkan di Qatar, ketika mereka nyaris mempermalukan Belgia pada laga pembuka.
Flashback Qatar 2022 adalah narasi tragis sekaligus membanggakan. Kanada lolos sebagai pemuncak grup kualifikasi zona Concacaf, menggeser Amerika Serikat dan Meksiko dari posisi teratas. Tekad mereka terasa nyata ketika menghadapi Belgia, salah satu tim terkuat di turnamen itu. Kanada menciptakan peluang-peluang berbahaya, memaksa kiper Thibaut Courtois bekerja keras, namun akhirnya tunduk dengan skor tipis 1-0.
Laga berikutnya melawan Kroasia menghadirkan momen bersejarah. Alphonso Davies, pemain sayap Bayern Münich yang telah lama dinantikan perannya di pentas dunia, menyambar bola umpan silang Tajon Buchanan dan menghentakkannya masuk ke gawang Dominik Livakovic. Gol itu lahir hanya dua menit setelah kick-off, menjadikan Davies pencetak gol pertama Kanada sepanjang sejarah Piala Dunia. Suporter meledak histeris.
Sayangnya euforia itu tak bertahan lama. Kroasia berbalik arah dan menang 4-1, mengubur asa Kanada sebelum laga terakhir. Kekalahan 2-1 dari Maroko kemudian menutup perjalanan mereka, sementara Les Lions de l’Atlas justru melaju hingga semifinal, menjadi tim Afrika pertama yang mencapai babak empat besar.
Dari seluruh perjalanan di Qatar, catatan statistik Kanada berbicara jujur: 0 kemenangan, 3 kekalahan, 2 gol dicetak, dan 7 gol kebobolan. Namun angka-angka dingin itu tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas yang sesungguhnya ditampilkan.
