Pelatih Jesse Marsch tahu betul persoalannya. Timnya mampu menciptakan peluang, bahkan peluang berkualitas, namun gagal mengonversi dengan efisien. Melawan Qatar yang dibekali kiper Mahmoud Abunada dalam performa prima, Kanada tak bisa lagi bermain setengah-setengah.
Satu kabar kurang sedap datang dari sisi kiri pertahanan. Alphonso Davies, bintang utama Kanada yang biasanya mendominasi sisi itu, belum pulih sepenuhnya dari cedera dan tidak ikut berlatih. Richie Laryea yang biasanya bermain di sisi kanan terpaksa mengisi posisi tersebut, sementara Alistair Johnston kemungkinan besar menjadi starter di bek kanan. Duet bek tengah Derek Cornelius dan Luc de Fougerolles akan menjaga lini pertahanan, dengan Maxime Crepeau kembali dipilih sebagai penjaga gawang.
Di lini tengah, duet Stephen Eustaquio dan Ismael Kone sudah hampir pasti bermain, diimbangi dua sayap Tajon Buchanan dan Liam Millar. Pertanyaan terbesar ada di lini depan: Jonathan David dipastikan memimpin serangan, namun apakah Cyle Larin atau Tani Oluwaseyi yang mendampinginya masih jadi tanda tanya. Pergantian ke Larin di menit ke-76 kontra Bosnia justru berujung pada gol penyeimbang — petunjuk yang mungkin mempengaruhi keputusan Marsch malam ini.
Dari kubu Qatar, ceritanya berbeda namun tak kalah menarik. The Maroons mencuri poin di detik-detik akhir melawan Swiss setelah nyaris dihajar habis-habisan di babak pertama. Swiss melancarkan 26 peluang dengan xG 3,2 dan 42 sentuhan di kotak penalti Qatar — angka yang mencerminkan betapa dominannya Swiss saat itu.
Pelatih Julen Lopetegui melakukan koreksi berani di babak kedua: mendorong lini belakang lebih maju, meminta gelandang menekan lebih tinggi, dan membebaskan penyerang untuk berlari menembus pertahanan lawan. Hasilnya? Gol penyeimbang di masa perpanjangan waktu yang mengamankan satu poin berharga.


Tinggalkan Balasan