BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Sementara miliaran penonton dunia menahan napas menyaksikan dribel dan gol para bintang, seorang mahasiswa MIT justru asyik menatap sesuatu yang berbeda—deretan angka di papan skor yang mungkin belum pernah muncul sepanjang sejarah sepak bola. Itulah William Peracchio, dan obsesinya terhadap data telah melahirkan sesuatu yang jauh lebih menarik dari sekadar statistik biasa.

Peracchio bukan penggemar sepak bola fanatik yang hafal nama setiap pemain. Ia hanya menonton Piala Dunia setiap empat tahun sekali, sekadar memuaskan rasa ingin tahu. Namun di balik kebiasaan sederhana itu, tersimpan kepekaan luar biasa terhadap angka yang kemudian melahirkan proyek bernama World Cupigami.

Nama proyek itu terinspirasi dari konsep Scorigami—sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan jurnalis olahraga Jon Bois pada 2014. Konsepnya sederhana namun menggoda: setiap skor akhir pertandingan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kompetisi tersebut disebut sebagai Scorigami. Satu kombinasi angka yang lahir untuk pertama kali, dan karenanya, menjadi bagian abadi dari sejarah.

“Scorigami adalah tindakan sekaligus seni dalam menciptakan skor akhir yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Bois dalam artikel yang kemudian viral di komunitas penggemar data olahraga.

Peracchio mengambil konsep itu dan mengaplikasikannya ke seluruh sejarah Piala Dunia. Dengan memanfaatkan kumpulan data terbuka yang tersebar di internet serta bantuan teknologi kecerdasan buatan, ia menyusun bagan berwarna-warni yang memperlihatkan skor mana yang sudah pernah terjadi dan mana yang masih kosong menunggu untuk diisi sejarah.

Hasilnya adalah visualisasi yang memukau. Ratusan pertandingan dari berbagai edisi Piala Dunia dipadatkan menjadi sebuah peta yang bisa dibaca sekilas, namun menyimpan kedalaman yang tak habis dijelajahi. Bagi pecinta matematika dan olahraga sekaligus, bagan World Cupigami terasa seperti menemukan peta harta karun.

“Ini proyek kecil yang menyenangkan. Saya hanya berpikir, kalau ada laga yang berakhir 5-4, itu akan jauh lebih seru,” ujar Peracchio kepada ESPN, sambil mengakui bahwa ia tidak menyangka proyeknya akan mendapat perhatian seluas ini.

Piala Dunia 2026 membuka peluang lebih besar dari edisi sebelumnya. FIFA memutuskan menambah jumlah peserta menjadi 48 tim, menghadirkan banyak negara debutan yang kemampuannya masih misterius. Ketidakseimbangan kekuatan antartim dinilai berpotensi menciptakan skor-skor besar yang belum pernah tercatat dalam buku sejarah turnamen paling bergengsi di dunia itu.

Peluang itu hampir menjadi kenyataan hanya dalam empat hari sejak turnamen bergulir. Jerman membantai Curacao—salah satu debutan Piala Dunia 2026—dengan skor 7-1. Ketika Kai Havertz mencetak gol ketujuh pada menit ke-88, komunitas pemburu Scorigami di seluruh dunia sontak berdebar. Satu gol lagi, dan sejarah akan tercipta.

Secara historis, skor 7-1 memang bukan hal baru. Kombinasi angka itu sudah muncul tiga kali dalam sejarah Piala Dunia, termasuk kemenangan telak Jerman atas Brasil pada 2014 yang masih membekas di ingatan publik. Namun angka 8-1? Belum pernah ada. Dan pada menit-menit terakhir laga kontra Curacao, dunia seolah berhenti sejenak menunggu.

Gol kedelapan itu tidak datang. Peluit panjang berbunyi, dan sejarah harus menunggu sedikit lebih lama.

Kelangkaan itulah yang membuat Scorigami di Piala Dunia terasa begitu istimewa. Berbeda dengan olahraga lain seperti basket, di mana skor baru bisa lahir hampir setiap malam—bayangkan NBA dengan skor 145-126 yang muncul begitu saja dalam satu pertandingan—sepak bola internasional pernah melewati puasa selama 40 tahun tanpa satu pun Scorigami baru.

Kebuntuan panjang itu baru pecah di Piala Dunia 2022, ketika Inggris mengalahkan Iran 6-2. Sebelum laga tersebut, para pencinta data harus mundur ke memori 1982 untuk menemukan Scorigami terakhir—kemenangan Hungaria 10-1 atas El Salvador. Empat dekade tanpa kombinasi angka baru adalah cermin betapa sulitnya momen langka itu lahir.

Sebagian besar laga Piala Dunia memang berlangsung ketat. Skor 1-0 adalah hasil yang paling sering muncul, tercatat 183 kali sepanjang sejarah turnamen, disusul 2-1 dan 2-0. Tekanan taktis, risiko kekalahan, dan gengsi internasional membuat setiap tim bermain penuh kewaspadaan. Mencetak banyak gol bukan prioritas—yang penting menang.

Namun bagi komunitas World Cupigami, setiap laga yang berpotensi menghasilkan skor besar adalah momen sakral yang ditunggu-tunggu. Ketika sebuah tim unggul jauh dan terus menyerang, ada degup jantung berbeda yang dirasakan oleh mereka yang mengamati bagan digital Peracchio.

Yang menarik, proyek ini bukan hanya tentang kepuasan intelektual para penggemar angka. Peracchio memiliki visi lebih jauh: jika sebuah Scorigami gila benar-benar terjadi dan negara tertentu menjadi bagian dari sejarah itu, ia ingin memanfaatkan momen tersebut untuk penggalangan dana amal melalui media sosial bagi negara yang bersangkutan.

“Jika terjadi Scorigami yang luar biasa, saya akan mencoba mencari lembaga amal di negara tempat itu terjadi, lalu membagikannya di media sosial. Kalau tidak ada hal lain, semoga ini bisa jadi hiburan yang menyenangkan,” kata Peracchio.

Ini adalah pergeseran yang menarik dalam cara orang menikmati olahraga. Statistik tidak lagi sekadar konsumsi para pelatih dan analis di ruang ganti. Di tangan seseorang seperti Peracchio, angka-angka itu berubah menjadi bahasa visual yang inklusif—bisa dinikmati oleh siapa saja, dari penggemar matematika hingga pendukung sepak bola yang tidak pernah menyentuh kalkulus seumur hidupnya.

Teknologi menjadi jembatan yang memungkinkan semua ini terjadi. Peracchio mengakui bahwa tanpa ketersediaan data historis secara digital dan kemampuan kecerdasan buatan untuk memproses ribuan baris data, proyek seperti World Cupigami tidak akan pernah bisa terwujud. Era informasi terbuka telah memberi kesempatan bagi individu seperti dia untuk menemukan pola-pola tersembunyi yang selama ini terkubur dalam arsip berdebu.

Dan sementara fase grup Piala Dunia 2026 masih terus bergulir, peluang untuk menyaksikan sejarah belum tertutup. Skor seperti 9-1 atau bahkan 10-0 masih mungkin lahir jika ketidakseimbangan kekuatan antarpeserta terus terulang. Setiap pertandingan menjadi halaman baru yang bisa ditulis atau dibiarkan kosong.

Peracchio akan tetap menyalakan layarnya setiap malam. Bukan untuk melihat siapa yang mengangkat trofi emas di laga final, melainkan untuk menunggu satu momen yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidupnya—sebuah kombinasi angka yang belum pernah ada sebelumnya, bersinar di papan skor sejarah untuk pertama kalinya.

FAQ

Apa itu Scorigami dalam sepak bola?
Scorigami adalah istilah yang merujuk pada skor akhir pertandingan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sebuah kompetisi. Konsep ini dipopulerkan oleh jurnalis Jon Bois pada 2014 dan kini diterapkan di berbagai olahraga, termasuk sepak bola internasional.

Apa itu proyek World Cupigami yang dibuat William Peracchio?
World Cupigami adalah proyek analisis data pribadi yang dibuat oleh William Peracchio, mahasiswa MIT, yang memetakan seluruh skor hasil pertandingan Piala Dunia sepanjang sejarah ke dalam sebuah bagan visual berwarna. Proyek ini bertujuan melacak kombinasi skor mana yang sudah pernah terjadi dan mana yang masih belum pernah muncul.

Mengapa Piala Dunia 2026 berpotensi menghasilkan lebih banyak Scorigami?
FIFA memperluas jumlah peserta Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim, menghadirkan banyak negara debutan dengan kekuatan yang belum teruji. Ketimpangan kemampuan antarpeserta dinilai meningkatkan kemungkinan munculnya skor-skor besar yang belum pernah tercatat dalam sejarah turnamen.



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026