Delapan tahun kemudian di Jerman 2006, Kroasia kembali hadir, meski kali ini tanpa kenangan manis. Mereka tersingkir di fase grup setelah drama menguras emosi kontra Australia — termasuk insiden tiga kartu kuning wasit Graham Poll kepada Josip Simunic, salah satu blunder perwasitan paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia.
Di Brasil 2014, Kroasia sekali lagi gagal melewati fase grup. Satu-satunya sinar terang: kemenangan 4-0 atas Kamerun, di mana Mandzukic mencetak dua gol dan menjadi pemain Kroasia pertama yang mencetak brace di Piala Dunia. Ivica Olic juga mencetak gol, membuatnya menjadi pemain dengan jarak 12 tahun antar gol Piala Dunia — hanya Michael Laudrup yang pernah melakukan hal serupa sebelumnya.
Rusia 2018 adalah puncak perjalanan itu. Kroasia melewati fase gugur dengan cara yang paling menguras jantung: tiga pertandingan berturut-turut, tiga perpanjangan waktu, dua adu penalti. Mereka menyingkirkan Denmark, lalu tuan rumah Rusia, lalu Inggris — sebelum tumbang di hadapan Prancis yang terlalu kuat di final Luzhniki.
Skor 4-2 untuk Prancis tak memudarkan kebanggaan. Ketika skuad Dalic pulang ke Zagreb, lebih dari 500.000 orang turun ke jalan menyambut mereka. “Kami semua seolah sedang menjalani mimpi,” kenang Dalic. “Masing-masing pemain pun disambut di kota asal mereka. Seluruh musim panas terasa tak tertandingi.”
Di Qatar 2022, narasi berlanjut. Kroasia kembali berjalan mulus di fase grup, lalu kembali berjuang keras di fase gugur — menyingkirkan Jepang lewat adu penalti, lalu melakukan hal serupa terhadap Brasil yang diunggulkan banyak pihak. Argentina dengan Lionel Messi yang tengah menginspirasi terlalu kuat di semifinal, tapi Kroasia menutup turnamen dengan indah: kemenangan 2-1 atas Maroko untuk merebut kembali posisi ketiga.
