Namun lawan yang menanti bukan tim yang bisa dianggap remeh.
Ekuador, yang dikenal dengan julukan La Tri, hadir sebagai salah satu tim dengan tren performa paling stabil di turnamen ini. Sejak menelan kekalahan 0-1 dari Brasil pada 2024, tim besutan Sebastian Beccacece tidak lagi merasakan pahitnya kekalahan. Mereka mengumpulkan 19 pertandingan tanpa kalah di seluruh kompetisi — sebuah angka yang berbicara sendiri soal kualitas dan mentalitas tim.
Kekuatan Ekuador bertumpu pada lini pertahanan yang amat disiplin. Dalam 19 laga tanpa kekalahan tersebut, La Tri berhasil menjaga gawang tetap bersih di 13 pertandingan. Angka clean sheet sebesar itu bukan kebetulan — ini adalah hasil dari sistem bertahan yang dibangun dengan sangat serius oleh Beccacece.
Duet bek tengah Piero Hincapie dan Willian Pacho menjadi tembok pertama yang harus ditembus setiap lawan. Keduanya dikenal bukan hanya andal dalam duel udara, tapi juga mampu membangun serangan dari belakang dengan tenang. Di depan mereka, gelandang Chelsea Moises Caicedo berperan ganda: mengatur tempo permainan sekaligus menjadi perisai pertahanan yang tangguh.
Tantangan Ekuador justru datang dari lini serang mereka sendiri. Produktivitas gol masih menjadi pekerjaan rumah La Tri — rata-rata hanya satu gol per pertandingan. Angka tersebut kerap membuat mereka kesulitan mengunci kemenangan saat lawan bermain bertahan rapat. Situasi semakin pelik karena kapten sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang masa, Enner Valencia, diragukan tampil akibat masalah kebugaran menjelang laga ini.


Tinggalkan Balasan