BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Meksiko membawa semangat juara ke pentas Piala Dunia FIFA 2026. Setelah mengangkat trofi Piala Emas CONCACAF dengan mengalahkan Amerika Serikat 2-1 di partai final, El Tri siap membuktikan bahwa kali ini mereka tampil beda di hadapan publik sendiri.

Sebagai salah satu negara tuan rumah Piala Dunia 2026, Meksiko memang mendapat tiket otomatis tanpa harus bersusah payah di babak kualifikasi. Namun alih-alih bersantai, skuad asuhan pelatih mereka justru memanfaatkan waktu itu untuk mempertajam permainan lewat serangkaian laga uji coba dan kompetisi regional.

Hasilnya berbicara sendiri. Meksiko kini tak terkalahkan dalam delapan pertandingan terakhir mereka, mencatat enam kemenangan dan dua hasil imbang. Puncaknya, mereka menghancurkan Serbia dengan skor telak 5-1 — sebuah sinyal kuat bahwa El Tri sedang dalam kondisi terbaik.

Namun ada catatan penting yang menghantui mereka. Piala Dunia terakhir Meksiko berakhir pahit: tersingkir di babak penyisihan grup. Satu-satunya penampilan mereka di babak gugur sejak itu adalah edisi 2018, ketika Brasil mengakhiri perjalanan El Tri di babak 16 besar. Di hadapan pendukung sendiri pada 2026, tekanan untuk memutus kutukan itu semakin besar.

Lawan perdana mereka bukanlah nama sembarangan. Afrika Selatan — yang akrab disapa Bafana Bafana — hadir sebagai kejutan tersendiri. Ini hanya penampilan kedua mereka di Piala Dunia sepanjang sejarah. Pertama kali mereka tampil adalah pada 2010, saat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Yang menarik, pertemuan terakhir kedua tim ini terjadi justru di Piala Dunia 2010 itu. Dalam satu grup, Meksiko berhasil melaju ke babak gugur sementara Afrika Selatan harus pulang lebih awal meski mengumpulkan empat poin — sebuah ironi yang tak terlupakan bagi Bafana Bafana.

Kini, 16 tahun kemudian, Afrika Selatan kembali dengan wajah yang berbeda. Mereka memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dengan cara yang meyakinkan: memuncaki grup kualifikasi mereka dengan raihan 18 poin dari 10 pertandingan. Konsistensi di fase kualifikasi itu menunjukkan bahwa tim ini bukan sekadar pelengkap.

Akan tetapi, perjalanan mereka menuju turnamen ini tidak sepenuhnya mulus. Di Piala Afrika, Bafana Bafana harus mengemas koper lebih cepat dari yang diharapkan — tumbang 2-1 di tangan Kamerun pada babak 16 besar. Kekalahan itu menjadi pelajaran berharga sekaligus catatan yang perlu diwaspadai.

Dalam lima pertandingan terakhir, Afrika Selatan belum sekalipun meraih kemenangan: tiga imbang dan dua kekalahan. Statistik itu kontras tajam dengan rekor Meksiko yang tengah panas. Namun dalam sepak bola, angka di atas kertas tidak selalu menentukan apa yang terjadi di atas lapangan.

Pertandingan ini pun menyimpan daya tarik tersendiri: laga pembuka Piala Dunia kerap menjadi panggung kejutan. Afrika Selatan, yang bermain tanpa beban besar seperti Meksiko, bisa tampil lepas dan agresif. Satu gol saja bisa mengubah segalanya.

Di sisi Meksiko, nama-nama seperti Guillermo Ochoa di bawah mistar, serta Raúl Jiménez di lini depan, menjadi tumpuan harapan jutaan pendukung El Tri. Ochoa, kiper veteran yang sudah kenyang pengalaman di Piala Dunia, dikenal sebagai tembok kokoh di bawah mistar. Jiménez, dengan insting mencetak golnya yang tajam, diharapkan menjadi mesin gol yang mematikan.

Untuk Afrika Selatan, Ronwen Williams menjadi andalan di bawah mistar. Pemain seperti Lyle Foster di lini depan dan Bongani Zungu di tengah menjadi tulang punggung permainan Bafana Bafana. Mereka tahu betul bahwa satu penampilan gemilang di Piala Dunia bisa mengubah karier sekaligus mengharumkan nama bangsa.

Sejarah pertemuan kedua tim tercatat satu kali: imbang 1-1. Tidak ada yang bisa mengklaim keunggulan psikologis mutlak dari pertemuan tunggal itu. Artinya, laga ini benar-benar dimulai dari titik nol — siapa yang lebih siap secara mental dan taktis, dialah yang akan meraih tiga poin pertama.

Bagi Meksiko, kemenangan di pertandingan ini bukan hanya soal poin. Ini adalah soal harga diri sebagai tuan rumah, soal membuktikan bahwa era baru El Tri benar-benar telah tiba. Kekalahan atau hasil imbang di laga pembuka bisa menjadi mimpi buruk yang sulit dipulihkan, baik secara statistik maupun dari segi kepercayaan diri.

Bagi Afrika Selatan, setiap poin adalah bonus. Target utama mereka adalah lolos dari fase grup — sesuatu yang gagal mereka capai pada 2010 meski bermain di depan pendukung sendiri. Dengan skuad yang lebih matang dan pengalaman kualifikasi yang solid, Bafana Bafana ingin menulis sejarah baru.

Ketika peluit kick-off berbunyi nanti, dua narasi berbeda akan bertemu di tengah lapangan. Meksiko membawa ambisi dan momentum. Afrika Selatan membawa keberanian dan semangat untuk membuktikan diri. Siapa yang akan menang? Itulah yang membuat Piala Dunia selalu menjadi tontonan paling dinantikan di muka bumi.

FAQ

Apakah Meksiko harus melalui kualifikasi untuk tampil di Piala Dunia 2026? Tidak. Sebagai salah satu negara tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Amerika Serikat dan Kanada, Meksiko mendapatkan tiket otomatis ke turnamen tanpa harus mengikuti babak kualifikasi.

Seberapa sering Afrika Selatan tampil di Piala Dunia FIFA? Piala Dunia 2026 merupakan penampilan kedua Afrika Selatan dalam sejarah. Keikutsertaan pertama mereka adalah pada Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan sendiri sebagai tuan rumah.

Bagaimana rekor pertemuan Meksiko dan Afrika Selatan sebelumnya? Kedua tim hanya pernah bertemu satu kali secara resmi, yakni di Piala Dunia 2010, dengan hasil imbang 1-1. Meksiko akhirnya lolos dari grup tersebut, sementara Afrika Selatan tersingkir meski mengumpulkan empat poin.



Follow Widget