Kini, sembari menunggu hasil undian yang dijadwalkan pada 6 Desember 2025 di John F. Kennedy Center, Washington D.C., Maroko bersiap dengan skuat terbaik mereka. Turnamen ini juga menjadi pemanasan bersejarah: empat tahun berselang, Maroko akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.
Untuk memahami seberapa jauh perjalanan Maroko, kita perlu memutar waktu ke belakang. Debut mereka di panggung dunia terjadi pada Piala Dunia 1970 di Meksiko, di mana mereka hadir sebagai satu-satunya wakil Afrika. Meski terhenti di fase grup, tim asuhan Blagoje Vidinic tampil mengejutkan—hampir menahan Jerman Barat sebelum kalah 2-1, kemudian mengakhiri turnamen dengan hasil imbang 1-1 lawan Bulgaria berkat gol Maouhoub Ghazouani di menit ke-61.
Enam belas tahun kemudian, Meksiko kembali menjadi tanah bersejarah bagi Maroko. Piala Dunia 1986 menjadi momen ketika Aziz Bouderbala dan kawan-kawan memimpin negaranya ke babak 16 besar, menjadikan Maroko sebagai tim Afrika pertama yang melewati fase grup dengan menduduki posisi puncak klasemen. Hanya gol tendangan bebas Lothar Matthaus pada menit ke-88 yang menghentikan langkah mereka dari perempat final.
Kisah manis berlanjut di Prancis 1998. Dalam pertandingan terakhir fase grup, Maroko menghancurkan Skotlandia 3-0 di Saint-Etienne—kemenangan terbesar mereka sepanjang sejarah Piala Dunia hingga saat ini. Salaheddine Bassir mencetak dua gol dalam kemenangan yang memukau itu. Sayang, hasil tersebut tidak cukup membawa mereka lolos setelah Norwegia mengalahkan Brasil.
Namun semua catatan itu memucat di hadapan epik Qatar 2022. Tergabung di Grup F bersama Kroasia, Belgia, dan Kanada, Maroko melewati semua rintangan dengan kepala tegak: imbang 0-0 lawan Kroasia, menang 2-0 atas Belgia, dan menang 2-1 atas Kanada. Di fase gugur, Spanyol dijatuhkan lewat adu penalti, Portugal disingkirkan 1-0 dalam laga yang menggetarkan dunia.
