Semifinal melawan Prancis—yang akhirnya kalah 2-0—tak mengurangi kebanggaan siapa pun. Maroko telah melampaui semua ekspektasi dan menancapkan namanya dalam sejarah sepak bola Afrika dan Arab.
Dua nama bersinar paling terang dari perjalanan itu. Youssef En-Nesyri, kini berseragam Fenerbahce, menjadi top skor Maroko di Piala Dunia dengan tiga gol. Sundulannya untuk mengalahkan Portugal—dilakukan dari ketinggian lompatan 2,78 meter—menjadi salah satu gambar paling ikonik dari Qatar 2022. Ia juga tercatat sebagai pemain Maroko pertama yang mencetak gol di dua edisi Piala Dunia berbeda, setelah sebelumnya menjebol gawang Spanyol di Rusia 2018.
Sementara itu, Achraf Hakimi dan Hakim Ziyech masing-masing telah mengoleksi 10 penampilan di Piala Dunia—rekor bersama untuk tim nasional Maroko sekaligus di antara seluruh negara Arab. Ziyech bahkan menorehkan nama dalam buku sejarah lewat gol tercepat yang pernah dicetak pemain Arab di Piala Dunia, hanya tiga menit 30 detik setelah laga kontra Kanada dimulai.
Di Piala Dunia 2026, generasi emas ini berambisi untuk naik satu tangga lebih tinggi. Tidak ada yang ingin berhenti di semifinal lagi. Bagi Maroko, Amerika Utara bukan sekadar panggung—ini adalah kesempatan untuk menuliskan babak baru dalam sejarah panjang yang sudah terlanjur membanggakan.
The Atlas Lions datang bukan untuk hadir. Mereka datang untuk menang.


Tinggalkan Balasan