Brasil 2014 menjadi episode paling menyakitkan. Kemenangan meyakinkan 2-1 atas Jepang di laga pertama memberi harapan besar, dengan Wilfried Bony dan Gervinho sebagai pahlawan. Tapi kekalahan dari Kolombia yang dipimpin James Rodriguez memaksa mereka berjuang hidup-mati melawan Yunani di laga penentuan.
Dalam laga itu, Didier Drogba sempat membawa Les Elephants ke jalur yang benar. Namun penalti di menit ke-93 dari Georgios Samaras menghancurkan segalanya. Yunani lolos, Pantai Gading pulang dengan tangan hampa. Bagi generasi emas yang dipimpin Drogba dan Yaya Toure, itu adalah perpisahan yang pahit.
Drogba sendiri adalah sosok paling ikonik dalam sejarah Pantai Gading di Piala Dunia. Ia mencetak gol perdana Les Elephants di panggung itu—saat laga debut melawan Argentina pada 2006—dan selalu menjadi simbol perjuangan tim ini. Bersama Aruna Dindane, Bony, dan Gervinho, ia termasuk pemain yang dua kali menggetarkan jala lawan di turnamen ini.
Sementara Yaya Toure memegang rekor tersendiri yang tak mungkin terulang begitu saja: ia satu-satunya pemain yang tampil dalam seluruh sembilan pertandingan Pantai Gading di tiga edisi Piala Dunia—2006, 2010, dan 2014. Adik dari Kolo Toure itu menjadi simbol loyalitas dan konsistensi generasi emas tersebut.
Kini giliran generasi baru. Dengan Fofana, Adingra, dan kawanan muda berbakat di bawah arahan Fae yang sedang menanjak, Pantai Gading datang ke Amerika Utara dengan bekal terbaik yang pernah mereka miliki dalam satu dekade. Rekor kualifikasi tanpa kekalahan dan tanpa kebobolan bukan sekadar statistik—itu adalah deklarasi bahwa mereka siap.


Tinggalkan Balasan