BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Namun di laga paling penting, Spanyol membuktikan bahwa konsistensi, organisasi permainan, dan kedalaman skuat adalah senjata yang tidak bisa diremehkan. Luis de la Fuente berhasil membangun tim yang tidak hanya tangguh secara taktis, tetapi juga bermental baja di momen-momen krusial.

Kekalahan ini sekaligus memperpanjang catatan sejarah yang sudah cukup kelam: hingga kini, tidak ada satu pun tim yang berhasil menjuarai Piala Dunia dua kali berturut-turut dalam era modern. Italia (1934 dan 1938) adalah satu-satunya tim yang pernah melakukannya—lebih dari delapan dekade silam. Brasil pernah mendekati pada 1958 dan 1962, sementara Jerman Barat pada 1974 dan 1978 pun gagal di percobaan kedua.

Argentina kini harus bergabung dalam daftar panjang tim yang mencoba namun gagal mengulang kejayaan. Di balik kekecewaan itu, pertanyaan besar pun mengemuka: mampukah Scaloni mempertahankan kepercayaan federasi dan membangun ulang tim untuk siklus Piala Dunia berikutnya?

Yang pasti, luka dari New Jersey tidak akan sembuh dalam semalam. Argentina harus menanggung beban kekalahan di final, ancaman sanksi bagi sejumlah pemain, dan kehilangan posisi puncak FIFA—semuanya dalam satu malam yang panjang.

Sementara Spanyol berpesta, Argentina memulai refleksi panjang. Dalam sepak bola, kejatuhan dan kebangkitan adalah siklus yang tak pernah berhenti. Dan bagi Los Albiceleste, waktu untuk bangkit sudah dimulai sejak peluit panjang di New Jersey berbunyi.



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026