BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Argentina harus menelan dua kekalahan sekaligus—di lapangan dan di papan peringkat. Kekalahan 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 tidak hanya mengubur mimpi Los Albiceleste mempertahankan mahkota dunia, tetapi juga menggeser mereka dari puncak ranking FIFA untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Laga puncak yang berlangsung di New Jersey itu menjadi malam pahit bagi jutaan pendukung Argentina. Tim asuhan Lionel Scaloni datang dengan ambisi besar—menjadi tim ketiga dalam sejarah sepak bola yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia secara beruntun. Namun ambisi itu kandas sebelum peluit panjang berbunyi.

Spanyol tampil meyakinkan di bawah komando Luis de la Fuente. Kemenangan tipis tapi bersejarah itu membawa La Roja merayakan gelar dunia kedua mereka, sebuah pencapaian yang langsung berdampak besar pada lanskap peringkat FIFA.

FIFA merilis pembaruan peringkat dunia tak lama setelah turnamen usai. Spanyol melejit ke posisi pertama dengan torehan 1.995,88 poin—naik 30,27 poin berkat kemenangan di final bergengsi itu. Argentina terdepak ke posisi kedua dengan 1.970,37 poin, meninggalkan kursi teratas yang selama ini mereka kuasai.

Lima besar peringkat FIFA kini dihuni oleh Spanyol, Argentina, Prancis, Inggris, dan Brasil. Di belakang mereka, Maroko, Portugal, Belgia, Belanda, dan Meksiko melengkapi jajaran sepuluh besar dunia—sebuah peta kekuatan baru yang mencerminkan hasil Piala Dunia 2026 secara keseluruhan.

Bagi Argentina, kehilangan posisi puncak tentu bukan sekadar soal angka. Peringkat FIFA adalah cerminan dominasi, prestise, dan kepercayaan diri sebuah tim di kancah internasional. Dan kini, mahkota itu berpindah tangan ke Madrid.

Namun tekanan bagi Argentina tidak berhenti di situ. Bayang-bayang sanksi FIFA mulai mengancam setelah insiden kericuhan pecah sesaat setelah peluit akhir berbunyi. Beberapa pemain Argentina dilaporkan terlibat dalam konfrontasi fisik dengan pemain Spanyol.

Bek gelandang Leandro Paredes menjadi sorotan utama setelah rekaman menunjukkan dirinya mendorong Eric Garcia di bagian leher, lalu menjatuhkan Gavi dalam insiden yang berbeda. Tak kalah kontroversial, bek kanan Nahuel Molina terekam memukul Rodri—kapten sekaligus jantung permainan Spanyol di laga itu.

FIFA bergerak cepat merespons situasi tersebut. Lembaga sepak bola dunia itu telah menunjuk jaksa disiplin dan etika untuk menyelidiki seluruh insiden pascalaga. Hasilnya bisa berujung pada sanksi berat bagi pemain-pemain yang terlibat, termasuk kemungkinan skors yang dapat mempengaruhi partisipasi mereka di ajang internasional berikutnya.

Ironisnya, Argentina datang ke Piala Dunia 2026 sebagai juara bertahan yang difavoritkan banyak pihak. Skuat yang diperkuat generasi emas—meski tanpa Lionel Messi yang telah pensiun dari tim nasional—tetap dipandang sebagai kandidat kuat. Perjalanan mereka menuju final pun cukup meyakinkan.

Namun di laga paling penting, Spanyol membuktikan bahwa konsistensi, organisasi permainan, dan kedalaman skuat adalah senjata yang tidak bisa diremehkan. Luis de la Fuente berhasil membangun tim yang tidak hanya tangguh secara taktis, tetapi juga bermental baja di momen-momen krusial.

Kekalahan ini sekaligus memperpanjang catatan sejarah yang sudah cukup kelam: hingga kini, tidak ada satu pun tim yang berhasil menjuarai Piala Dunia dua kali berturut-turut dalam era modern. Italia (1934 dan 1938) adalah satu-satunya tim yang pernah melakukannya—lebih dari delapan dekade silam. Brasil pernah mendekati pada 1958 dan 1962, sementara Jerman Barat pada 1974 dan 1978 pun gagal di percobaan kedua.

Argentina kini harus bergabung dalam daftar panjang tim yang mencoba namun gagal mengulang kejayaan. Di balik kekecewaan itu, pertanyaan besar pun mengemuka: mampukah Scaloni mempertahankan kepercayaan federasi dan membangun ulang tim untuk siklus Piala Dunia berikutnya?

Yang pasti, luka dari New Jersey tidak akan sembuh dalam semalam. Argentina harus menanggung beban kekalahan di final, ancaman sanksi bagi sejumlah pemain, dan kehilangan posisi puncak FIFA—semuanya dalam satu malam yang panjang.

Sementara Spanyol berpesta, Argentina memulai refleksi panjang. Dalam sepak bola, kejatuhan dan kebangkitan adalah siklus yang tak pernah berhenti. Dan bagi Los Albiceleste, waktu untuk bangkit sudah dimulai sejak peluit panjang di New Jersey berbunyi.

FAQ

Mengapa Argentina turun dari posisi pertama ranking FIFA?

Argentina kehilangan posisi puncak karena Spanyol mendapatkan poin signifikan setelah memenangkan Piala Dunia 2026, dengan tambahan 30,27 poin yang mendorong mereka ke peringkat pertama dengan 1.995,88 poin, melampaui Argentina yang kini berada di posisi kedua dengan 1.970,37 poin.

Apa sanksi yang mungkin dijatuhkan FIFA kepada pemain Argentina?

FIFA telah menunjuk jaksa disiplin dan etika untuk menyelidiki insiden pascalaga yang melibatkan Leandro Paredes dan Nahuel Molina. Sanksi yang mungkin dijatuhkan mencakup denda, skors pertandingan internasional, hingga larangan bermain di kompetisi FIFA berikutnya.

Apakah ada tim yang pernah berhasil mempertahankan gelar Piala Dunia?

Hanya Italia yang berhasil menjuarai Piala Dunia dua kali berturut-turut, yaitu pada 1934 dan 1938. Sejak era modern sepak bola berkembang, tidak ada tim lain yang mampu mengulang pencapaian langka tersebut, termasuk Argentina yang mencoba pada Piala Dunia 2026.



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026