TORONTO, PUNGGAWASPORT – Dua legenda sepak bola dunia yang pernah bersatu di Santiago Bernabéu kini berhadapan di sisi berlawanan lapangan. Portugal dan Kroasia memperebutkan tiket babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Toronto Stadium, Kanada, pada Jumat (3/7/2026) pukul 05.00 WIB — dan pertandingan ini bukan sekadar laga biasa.
Cristiano Ronaldo dan Luka Modric pernah merayakan empat trofi Liga Champions bersama Real Madrid antara 2012 hingga 2018. Kini, ikatan itu harus dikubur sementara demi kepentingan negara masing-masing. Keduanya sama-sama tahu betul cara menyakiti mantan rekan sendiri.
Portugal melaju ke babak 32 besar sebagai runner-up Grup K di belakang Kolombia. Perjalanan mereka tidak mulus — seri 1-1 lawan Republik Demokratik Kongo di laga perdana menjadi catatan yang kurang menyenangkan. Namun tim asuhan Roberto Martinez kemudian bangkit dengan kemenangan telak 5-0 atas Uzbekistan, sebelum bermain tanpa gol melawan Kolombia.
Meski tertatih, modal Portugal tetap solid. Delapan laga beruntun tanpa kekalahan menjadi fondasi kepercayaan diri mereka — lima menang, tiga seri, hanya empat gol kebobolan, dan empat kali clean sheet. Angka-angka itu berbicara tentang tim yang susah ditembus.
Kroasia datang dengan cerita kebangkitan yang lebih dramatis. Mereka digilas Inggris 2-4 di laga pembuka, situasi yang membuat banyak pihak meragukan kapasitas mereka di turnamen ini. Tapi skuad Zlatko Dalic tidak menyerah. Kemenangan 1-0 atas Panama dan 2-1 atas Gana cukup untuk mengamankan tiket fase gugur — membuktikan bahwa Kroasia bukan tim yang mudah dijatuhkan.
Di balik kebangkitan itu ada Luka Modric, 40 tahun, yang kembali menjadi dalang permainan. Asisnya untuk gol penentu Nikola Vlasic ke gawang Gana bukan sekadar kontribusi biasa — itu menjadikannya pemain tertua yang mencatat assist di sepanjang sejarah Piala Dunia. Angka itu lebih dari sekadar statistik. Itu adalah pernyataan.
Bernardo Silva, gelandang Manchester City yang akan berhadapan langsung dengan Modric di lapangan tengah, mengaku sang kapten Kroasia bukan sekadar lawan baginya. Silva terang-terangan menyebut Modric sebagai idolanya.
“Luka sebenarnya adalah idola saya — bukan hanya karena cara dia bermain dan mampu bertahan di level tertinggi, tetapi juga karena bagaimana dia menjalani kariernya,” kata Silva, dikutip dari Reuters.
Silva bahkan mengaku pernah meminta jersei Modric usai salah satu duel Manchester City melawan Real Madrid. Jersei itu kini tersimpan di rumahnya sebagai koleksi paling berharga. Namun Silva juga menambahkan, rasa hormat itu ada batasnya di lapangan.
“Saya mendoakan yang terbaik untuknya — hanya saja tidak dalam dua hari ke depan, karena kami ingin mengalahkannya,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik keakraban itu, Silva juga menyentuh tantangan struktural yang dihadapi Portugal sebagai tim nasional. Berbeda dengan Jerman atau Spanyol yang sebagian besar pemainnya tumbuh dalam ekosistem liga domestik yang homogen, para pemain Portugal berserakan di berbagai liga Eropa dengan gaya bermain yang berbeda-beda.
“Kami bermain di liga yang berbeda dengan filosofi yang juga berbeda. Waktu bersama di tim nasional sangat terbatas, sehingga adaptasi selalu menjadi tantangan,” jelas Silva.
Meski begitu, ia meyakini bahwa dalam format sistem gugur, faktor psikologis justru lebih menentukan daripada kesiapan taktik semata. Emosi, intuisi, dan momen-momen kecil — itulah yang kerap menjadi pembeda antara tim yang pulang lebih awal dan yang melaju jauh.
Di sisi lain, pelatih Kroasia Zlatko Dalic meminta publik menghargai pencapaian timnya lolos ke fase gugur. Bagi Dalic, itu bukan hal kecil — mengingat tekanan dan kritik yang datang setelah kekalahan dari Inggris di laga pembuka.
“Saya pikir kami kembali ke posisi seperti delapan tahun lalu. Ini baru langkah kecil untuk mencapai tujuan pertama, yaitu lolos ke babak gugur,” kata pelatih berusia 59 tahun itu.
Dalic juga meminta para pendukung Kroasia untuk tetap berpihak kepada tim, apa pun hasilnya. Menurutnya, Modric dan rekan-rekannya sudah berbuat begitu banyak untuk bangsa — dan mereka layak mendapat cinta, bukan kritik.
“Baik saat kalah maupun menang, mereka layak dicintai atas semua yang telah mereka lakukan untuk rakyat dan negara ini,” tegas Dalic.
Rekor pertemuan menjadi satu-satunya variabel yang tidak berpihak kepada Kroasia. Dari sepuluh duel terakhir kedua tim, Portugal menang tujuh kali. Dalam enam laga kompetitif terakhir, Portugal memenangkan lima di antaranya — termasuk di babak 16 besar Euro 2016 yang berujung pada gelar juara bagi Portugal.
Kroasia memang ahli menyulitkan tim-tim besar. Finalis Piala Dunia 2018 dan peraih posisi ketiga pada 2022 itu punya mentalitas yang sudah teruji di panggung terbesar. Tapi secara kedalaman skuad dan rekor pertemuan, Portugal memiliki sedikit keunggulan.
Jika Ronaldo, Bruno Fernandes, dan Bernardo Silva mampu tampil efektif memanfaatkan peluang, Portugal diprediksi lebih berpeluang mengamankan tiket ke babak 16 besar. Peluang dikira-kira 55 berbanding 45 untuk Portugal.
Laga dipimpin wasit Facundo Tello dari Argentina. Siapa pun yang menang, salah satu legenda besar sepak bola dunia akan pulang lebih awal malam itu dari Toronto.
FAQ
Kapan dan di mana Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026 berlangsung?
Pertandingan Portugal vs Kroasia berlangsung pada Jumat, 3 Juli 2026 pukul 05.00 WIB di Toronto Stadium, Kanada, dan disiarkan langsung oleh TVRI dan TVRI Sport.
Bagaimana rekor pertemuan Portugal dan Kroasia sebelum laga ini?
Dari sepuluh pertemuan terakhir, Portugal unggul dengan tujuh kemenangan. Dalam enam laga kompetitif terakhir, Portugal memenangkan lima di antaranya, termasuk di babak 16 besar Euro 2016.
Apa pencapaian Luka Modric yang menjadi sorotan di Piala Dunia 2026 ini?
Modric menjadi pemain tertua sepanjang sejarah yang mencatat assist di Piala Dunia setelah memberi umpan untuk gol penentu Nikola Vlasic ke gawang Gana, saat usianya menginjak 40 tahun.


Tinggalkan Balasan