BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Amerika Serikat bukan sekadar tuan rumah Piala Dunia 2026 — mereka datang dengan beban sejarah, ambisi yang membara, dan pelatih baru yang siap mengubah nasib The Stars and Stripes di panggung sepak bola dunia.

Di bawah arahan Mauricio Pochettino, mantan arsitek Chelsea dan Paris Saint-Germain yang resmi memegang kendali tim pada September 2024, Amerika Serikat akan menjalani partisipasi ke-12 mereka di Piala Dunia. Turnamen yang digelar bersama Kanada dan Meksiko ini menjadi momen paling krusial dalam sejarah sepak bola Amerika — bermain di kandang sendiri, di hadapan jutaan mata yang menonton.

Ini bukan sekadar turnamen. Ini ujian eksistensial bagi sepak bola Amerika.

Pochettino mewarisi tim yang punya potensi besar namun terhenti prematur di Qatar 2022. Ketika itu, skuad muda Amerika Serikat tampil impresif di fase grup — lolos tanpa kekalahan dari grup yang berisi Inggris, Iran, dan Wales — namun babak 16 besar menjadi tembok yang tak mampu mereka terobos. Belanda menghantam mereka 3-1 dan mengakhiri mimpi Christian Pulisic dan kawan-kawan lebih cepat dari yang diharapkan.

Pochettino bukan nama baru di dunia sepak bola elite. Pengalaman melatihnya di Tottenham Hotspur, Southampton, Espanyol, PSG, dan Chelsea menjadikannya salah satu pelatih paling berpengalaman yang pernah menangani timnas Amerika. Ia membawa gaya bermain yang terstruktur, menekankan intensitas pressing tinggi dan transisi cepat — formula yang bisa sangat berbahaya di turnamen format cepat seperti Piala Dunia.

Dalam Piala Dunia 2026, Amerika Serikat tergabung di Grup D bersama lawan-lawan yang bisa diukur. Mereka membuka kampanye pada 12 Juni melawan Paraguay di Los Angeles Stadium, lalu menghadapi Australia pada 19 Juni di Seattle Stadium, sebelum menutup fase grup pada 25 Juni kembali di Los Angeles menghadapi pemenang playoff antara Kosovo, Rumania, Slowakia, atau Turki.

Jadwal yang relatif berpihak, ditambah keuntungan bermain di kandang sendiri, menempatkan Amerika Serikat sebagai kandidat kuat untuk lolos dari fase grup — bahkan lebih jauh.

Namun untuk memahami seberapa jauh mereka bisa melangkah, perlu ditelusuri dari mana perjalanan ini bermula.

Sejarah Amerika Serikat di Piala Dunia dimulai bukan dengan kelemahan, melainkan dengan kejutan. Pada Piala Dunia pertama yang digelar di Uruguay tahun 1930, Amerika Serikat tampil luar biasa. Mereka memuncaki grup tiga tim dengan kemenangan 3-0 atas Paraguay dan Belgia, menembus babak semifinal sebelum akhirnya dihancurkan Argentina 6-1.

Penampilan terbaik itulah yang masih menjadi rekor hingga hari ini — semifinal 1930 tetap menjadi capaian tertinggi dalam sejarah Piala Dunia Amerika Serikat.

Tapi ada satu momen yang melampaui segalanya dalam hal kejutan: kemenangan 1-0 atas Inggris di Piala Dunia 1950 Brasil. Inggris saat itu adalah raksasa yang baru pertama kali ikut Piala Dunia, penuh bintang, dan dianggap favorit meraih trofi. Amerika Serikat? Tim yang sebagian besar tersusun dari pemain paruh waktu.

Namun Joe Gaetjens mencetak gol menjelang akhir babak pertama, dan kiper Frank Borghi menjaga gawang dengan heroik sepanjang sisa pertandingan. Hasilnya: salah satu kejutan terbesar dalam sejarah olahraga dunia.

Enam puluh empat tahun kemudian, aksi heroik serupa terulang — kali ini dari Tim Howard. Di babak 16 besar Piala Dunia 2014 Brasil, kiper Amerika Serikat itu melakukan 16 penyelamatan dalam satu pertandingan melawan Belgia, mencetak rekor penyelamatan terbanyak dalam satu laga di Piala Dunia era modern. Meskipun Amerika Serikat akhirnya kalah 2-1 setelah perpanjangan waktu, penampilan Howard viral di seluruh dunia dan mendapat pujian langsung dari Presiden Amerika Serikat.

Bicara soal individu, tak ada nama yang lebih besar dalam sejarah Piala Dunia Amerika Serikat selain Landon Donovan. Ia adalah top skor sepanjang masa Amerika Serikat di Piala Dunia dengan torehan lima gol dari tiga turnamen — 2002, 2006, dan 2010.

Gol-gol Donovan bukan sekadar statistik. Dua golnya di Piala Dunia 2002 termasuk gol kedua dalam kemenangan bersejarah 2-0 atas Meksiko di babak 16 besar — hasil yang memicu perayaan luar biasa di seluruh Amerika Serikat. Lalu di Afrika Selatan 2010, golnya ke gawang Aljazair di menit-menit akhir memastikan Amerika Serikat lolos dari fase grup secara dramatis.

Donovan juga memegang rekor penampilan terbanyak bagi Amerika Serikat di Piala Dunia dengan 12 laga di tiga turnamen. Angka yang belum tersentuh hingga kini.

Kemenangan terbesar Amerika Serikat di Piala Dunia pun berasal dari edisi 1930, ketika mereka menghantam Belgia 3-0 dan Paraguay 3-0 berturut-turut. Dalam laga melawan Paraguay itu, Bert Patenaude mencetak hat-trick — yang kemudian diakui FIFA sebagai hat-trick pertama dalam sejarah Piala Dunia.

Jika data-data itu terasa jauh dari masa kini, maka Piala Dunia 2026 adalah kesempatan generasi baru untuk menulis ulang sejarah. Skuad yang dipimpin Pochettino memiliki pemain-pemain dengan pengalaman di liga-liga elite Eropa — dari Christian Pulisic di AC Milan hingga nama-nama muda yang mulai bersinar di Premier League dan Bundesliga.

Bermain di hadapan penonton Amerika yang antusias di stadion-stadion Los Angeles dan Seattle, tekanan akan luar biasa. Tapi itu juga bisa menjadi bahan bakar yang paling dahsyat.

Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang Amerika Serikat sebagai tuan rumah. Ini tentang sebuah tim yang ingin membuktikan bahwa sepak bola Amerika sudah layak bersaing — bukan hanya menjadi penyelenggara, tapi juga pesaing serius.

FAQ

Siapa pelatih Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026?

Mauricio Pochettino, mantan pelatih Chelsea, PSG, dan Tottenham, ditunjuk sebagai pelatih kepala Amerika Serikat pada September 2024 menggantikan Gregg Berhalter.

Di grup mana Amerika Serikat bermain di Piala Dunia 2026?

Amerika Serikat berada di Grup D bersama Paraguay, Australia, dan salah satu tim dari playoff (Kosovo, Rumania, Slowakia, atau Turki).

Apa pencapaian terbaik Amerika Serikat di Piala Dunia?

Pencapaian terbaik Amerika Serikat adalah babak semifinal pada Piala Dunia perdana tahun 1930 di Uruguay, sebelum dikalahkan Argentina 6-1.



Follow Widget