Tiga laga, tiga kesempatan untuk membuktikan bahwa Piala Dunia 2022 bukan sekadar nostalgia tuan rumah.
Berbicara soal kenangan 2022, ada satu momen yang tak akan pernah pudar dalam ingatan pendukung Qatar: gol Mohammed Muntari pada menit ke-78 saat menghadapi Senegal. Tandukan Muntari ke umpan silang Ismaeel Mohammad itu menjadi gol pertama Qatar dalam sejarah Piala Dunia. Meski Qatar tetap kalah 3-1 dalam laga tersebut, gol itu punya nilai yang melampaui sekadar angka di papan skor. Ia adalah bukti bahwa Qatar bisa mengancam, bisa mencetak gol, bisa bersaing.
Di edisi 2022, Qatar menurunkan tim yang dipimpin Felix Sanchez. Mereka membuka turnamen melawan Ekuador di Al Bayt Stadium yang dipenuhi lebih dari 67.000 penonton—sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus menegangkan. Kekalahan 2-0 pada debut itu bisa dipahami. Yang lebih menyakitkan adalah kekalahan 3-1 dari Senegal dan 0-2 dari Belanda, yang mengakhiri perjalanan mereka tanpa poin dan tanpa kemenangan. Namun tiga pertandingan menghadapi tim dari tiga benua berbeda memberi pelajaran tak ternilai yang kini menjadi fondasi tim besutan Lopetegui.
Trio Abdelkarim Hassan, Boualem Khoukhi, dan Akram Afif menjadi wajah kesinambungan dalam skuad Qatar. Ketiganya memainkan seluruh 270 menit di Qatar 2022 dan kini kembali membawa pengalaman serta ambisi baru menuju Piala Dunia berikutnya. Khoukhi bahkan turut menyumbang gol krusial dalam laga kualifikasi penentu melawan UEA—sebuah simbol bahwa para veteran ini belum selesai bercerita.
Dengan total dua penampilan di Piala Dunia—2022 dan 2026—Qatar masih tergolong tim yang sangat muda di panggung global. Catatan keseluruhan mereka: tiga laga, nol kemenangan, tujuh gol kebobolan, satu gol dicetak. Angka-angka itu memang belum membanggakan, tetapi angka tersebut juga belum merepresentasikan potensi sesungguhnya tim ini.


Tinggalkan Balasan