Steve Clarke, arsitek Skotlandia, tentu sadar betul beban yang diemban timnya. Kemenangan atas Haiti memang melegakan, meski sejumlah pengamat menilai performa itu jauh dari kata meyakinkan. Gol tunggal John McGinn pada babak pertama menjadi satu-satunya pembeda—dan nyatanya, itu sudah cukup untuk merebut tiga poin berharga.
Apabila mampu mengalahkan Maroko malam ini, Skotlandia tidak hanya memastikan satu kaki di babak gugur. Ada skenario yang lebih menggiurkan: jika Brasil gagal mengalahkan Haiti di laga bersamaan, Clarke dan anak-anak asuhnya bisa langsung naik takhta sebagai juara Grup C. Sebuah capaian yang bahkan tak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya.
Jika skenario juara grup itu terwujud, Skotlandia akan menghadapi peringkat dua Grup F di babak 32 besar. Potensi lawan yang menanti bisa jadi Swedia, Jepang, Belanda, atau Tunisia—sebuah lintasan yang terbuka namun tetap penuh tantangan.
Namun Maroko bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Tim besutan Mohamed Ouahbi ini datang ke Boston Stadium dengan kepala tegak setelah menahan imbang Brasil—jawara Amerika Selatan yang selalu diunggulkan melaju jauh di turnamen ini. Ismael Saibari sempat membuat stadion terkesima lewat golnya yang merobek pertahanan Brasil, sebelum aksi brilian Vinicius Junior memaksa skor kembali seimbang.
Reputasi Maroko di pentas dunia memang tengah berada di puncaknya. Semifinalis Piala Dunia 2022 di Qatar itu berhasil membuktikan bahwa Afrika bisa bersaing di level tertinggi. Mereka dihentikan Prancis di empat besar, lalu takluk dari Kroasia 1-2 dalam perebutan tempat ketiga—tetapi jejak yang mereka tinggalkan tetap membekas dalam ingatan dunia.


Tinggalkan Balasan