BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Spanyol datang ke Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar sebagai peserta — mereka datang sebagai tim yang haus pembuktian. Setelah dipermalukan Maroko di babak 16 besar Qatar 2022, La Roja kini mengincar mahkota dunia kedua mereka, membawa bekal gelar juara Eropa dan momentum kepercayaan diri yang sulit dibendung.

Turnamen edisi 2026 akan menjadi yang ke-17 bagi Spanyol dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia. Kali ini, ajang tersebut diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — menjadikannya gelaran Piala Dunia paling ambisius dalam sejarah FIFA. Spanyol tergabung di Grup E bersama Tanjung Verde, Arab Saudi, dan Uruguay, dengan seluruh laga kandang mereka dipusatkan di Atlanta dan Guadalajara.

Luis de la Fuente, pelatih yang mengambil alih kemudi pada Desember 2022, telah mengubah wajah tim nasional Spanyol secara signifikan. Ia dipromosikan dari struktur internal setelah berhasil membesut tim U-19 dan U-21, dan langsung menunjukkan visi taktis yang lebih segar. De la Fuente mempertahankan DNA pressing yang menjadi ciri khas Spanyol, namun menambahkan dimensi baru: kemampuan serangan balik cepat dan transisi vertikal yang lebih agresif.

Di tangannya, Spanyol bukan lagi tim yang bermain lambat dengan umpan-umpan horizontal tanpa ujung. Mereka kini lebih dinamis, lebih tajam, dan — yang paling menarik — diperkuat generasi muda luar biasa yang sebagian besar pernah diasuh De la Fuente sendiri di level junior. Nama-nama seperti Lamine Yamal, Nico Williams, Pau Cubarsi, dan Dean Huijsen bukan lagi sekadar pemain muda berbakat. Mereka adalah tulang punggung tim.

Perjalanan kualifikasi menuju Amerika Utara berlangsung nyaris sempurna. La Roja menyapu bersih laga tandang dan kandang melawan Bulgaria dan Georgia. Satu-satunya catatan tak mulus terjadi di partai penutup kualifikasi, ketika Spanyol ditahan imbang 2-2 oleh Turki di Seville. Namun itu pun sudah cukup untuk mengamankan tiket, setelah sebelumnya menghancurkan Turki 6-0 di Konya pada pertemuan pertama.

Sebelum Piala Dunia, De la Fuente juga membawa Spanyol ke final UEFA Nations League 2024–25, melanjutkan tren positif yang dimulai ketika mereka mengangkat trofi UEFA EURO 2024. Spanyol saat ini bukan hanya kandidat kuat — mereka adalah tim yang sedang dalam puncak performa.

Namun ingatan pahit Qatar masih membayangi. Kala itu, Spanyol tampil gemilang di fase grup, termasuk menghancurkan Kosta Rika 7-0 dalam satu pertandingan paling dominan di turnamen tersebut. Tujuh gol yang tercipta lewat kombinasi umpan pendek, pergerakan tanpa bola, dan penyelesaian klinis itu seolah menjadi proklamasi: Spanyol siap juara. Namun sepak bola tidak selalu berjalan sesuai skenario.

Maroko di babak 16 besar menjadi tembok yang tak tertembus. Blok pertahanan rendah tim Afrika Utara itu berhasil mematikan ritme permainan Spanyol selama 120 menit penuh. Tak ada gol. Adu penalti menjadi algojo, dan Spanyol pun tersingkir dengan cara yang menyakitkan.

Pengalaman buruk itu menjadi bahan bakar. De la Fuente memahami bahwa tim yang hanya indah dilihat namun tidak mematikan ketika lawan bertahan rapat adalah tim yang tak lengkap. Perubahan pun dilakukan, dan hasilnya terlihat jelas dalam cara Spanyol bermain setelah Qatar.

Sejarah panjang Spanyol di Piala Dunia dimulai sejak 1934, ketika mereka langsung tampil impresif di debut mereka di Italia. Mereka mengalahkan Brasil di babak 16 besar, sebelum ditahan Italia 1-1 di perempat final dan kalah 1-0 di pertandingan ulangan. Italia kemudian menjadi juara, dan Spanyol pulang dengan kepala tegak meski tanpa trofi.

Momen tertinggi mereka datang pada 2010 di Afrika Selatan. Di bawah komando Vicente del Bosque, skuad yang didominasi bintang Barcelona dan Real Madrid itu memainkan tiki-taka dengan sempurna — penguasaan bola, tekanan tinggi, dan transisi mulus. Carles Puyol, Xavi, Sergio Busquets, Gerard Piqué, Andrés Iniesta dari Barcelona berpadu dengan Iker Casillas, Xabi Alonso, dan Sergio Ramos dari Madrid.

Gol tunggal Iniesta di babak perpanjangan waktu final melawan Belanda menjadi momen yang akan dikenang sepanjang masa. Selebrasinya — melepas kaos dan mempersembahkan gol untuk mendiang Dani Jarque — menjadi salah satu gambar paling emosional dalam sejarah Piala Dunia. Spanyol bukan hanya juara secara taktis, mereka juara secara jiwa.

Pencetak gol terbanyak La Roja di Piala Dunia adalah David Villa dengan sembilan gol, diikuti Emilio Butragueño, Fernando Hierro, Fernando Morientes, dan Raúl yang masing-masing mengemas lima gol. Adapun rekor penampilan terbanyak dipegang bersama oleh Iker Casillas, Sergio Ramos, dan Sergio Busquets, masing-masing 17 pertandingan dalam empat edisi turnamen.

Kini, generasi baru tengah menapaki jejak para legenda itu. Lamine Yamal yang masih berusia remaja telah menunjukkan kualitas kelas dunia. Nico Williams membawa kecepatan dan kreativitas yang sulit dibendung. Cubarsi dan Huijsen membentuk lini belakang yang tangguh namun juga nyaman dengan bola. Sementara gelandang-gelandang seperti Pedri dan Gavi memberikan jaminan kualitas di lini tengah.

Jadwal grup Spanyol terlihat cukup bersahabat di atas kertas. Mereka memulai dengan menghadapi Tanjung Verde pada 15 Juni di Atlanta, berlanjut melawan Arab Saudi pada 21 Juni di tempat yang sama, sebelum menutup fase grup menghadapi Uruguay pada 26 Juni di Guadalajara. Uruguay tentu akan menjadi ujian paling berat — tim berpengalaman dengan filosofi sepak bola yang keras dan pragmatis.

Jika Spanyol mampu melewati fase grup dengan mulus dan menjaga konsistensi permainan mereka, bukan tidak mungkin trofi kedua di tangan mereka kembali ke Madrid. Tapi sepak bola, seperti yang ditunjukkan Qatar, selalu menyimpan kejutan.

Yang pasti, Spanyol 2026 adalah tim yang berbeda dari 2022. Lebih lapar, lebih lengkap, dan lebih siap menghadapi semua skenario.

FAQ

Kapan dan di mana Spanyol akan bermain di Piala Dunia 2026? Spanyol tergabung di Grup E dan akan memainkan tiga laga fase grup di Atlanta dan Guadalajara. Mereka menghadapi Tanjung Verde (15 Juni), Arab Saudi (21 Juni), dan Uruguay (26 Juni).

Siapa pelatih Spanyol di Piala Dunia 2026 dan apa pendekatan taktisnya? Luis de la Fuente adalah pelatih La Roja sejak Desember 2022. Ia menerapkan gaya pressing intensif yang dipadu kemampuan transisi cepat, berbeda dari era tiki-taka yang lebih lambat dan dominan di era sebelumnya.

Berapa kali Spanyol juara Piala Dunia dan kapan terakhir kali mereka memenangkannya? Spanyol baru sekali menjuarai Piala Dunia, yakni pada edisi 2010 di Afrika Selatan. Mereka mengalahkan Belanda 1-0 di final berkat gol Andrés Iniesta di babak perpanjangan waktu.



Follow Widget