SPANYOL, PUNGGAWASPORT – Presiden La Liga, Javier Tebas, meledak. Bukan soal skor atau klasemen, melainkan tentang masa depan sepak bola dunia yang ia nilai sedang digiring menuju kehancuran oleh tangan FIFA sendiri.
Dalam wawancara dengan harian olahraga Italia, La Gazzetta dello Sport, Tebas secara terang-terangan menuntut Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mengundurkan diri. Serangan verbal itu bukan sekadar ekspresi kekecewaan, melainkan cermin dari kekhawatiran mendalam para pelaku industri sepak bola Eropa terhadap arah kebijakan FIFA.
“Infantino dan FIFA sedang menghancurkan industri sepak bola,” kata Tebas tanpa tedeng aling-aling. Ia menilai keputusan-keputusan FIFA diambil secara tidak bertanggung jawab dan justru menggerus ekosistem sepak bola yang selama ini dibangun dengan susah payah.
Kritik Tebas terutama tertuju pada wacana perluasan Piala Dunia menjadi 64 tim. Bagi Tebas, ini bukan kemajuan, melainkan kemunduran. “Kita butuh lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola domestik,” tegasnya.
Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang sudah menjadi edisi bersejarah—pertama kalinya turnamen empat tahunan itu diikuti 48 tim nasional. Namun alih-alih berhenti di angka itu, FIFA sudah mulai melirik kemungkinan ekspansi lebih jauh.
Presiden Conmebol, Alejandro Domínguez, bahkan sudah bersuara lebih lantang. Ia menyatakan bahwa Piala Dunia 2030 akan digelar dengan format 64 tim—sebuah pernyataan yang langsung memantik perdebatan di berbagai penjuru dunia sepak bola.
Piala Dunia 2030 sendiri dijadwalkan berlangsung di Spanyol, Portugal, dan Maroko, dengan laga pembuka istimewa yang akan digelar di Uruguay, Argentina, dan Paraguay sebagai penghormatan terhadap satu abad perjalanan turnamen paling bergengsi di dunia itu.
Namun bagi Tebas, agenda ekspansi itu hanyalah satu dari sekian masalah yang menggerogoti integritas kompetisi. Ia juga menyoroti sejumlah kontroversi yang mewarnai Piala Dunia 2026 sejak babak-babak awal bergulir.
Salah satu yang paling mencolok adalah keberadaan hydration break atau jeda hidrasi di tengah pertandingan. Aturan ini, yang resminya diberlakukan demi kesehatan pemain mengingat cuaca panas di beberapa venue Amerika Serikat, justru dicurigai Tebas memiliki agenda tersembunyi. “Itu hanya alasan untuk iklan,” sindir Tebas, menyiratkan bahwa kepentingan komersial berjalan lebih kencang dari kepentingan sportivitas.
Kontroversi lain yang tak kalah mengejutkan datang dari kasus Folarin Balogun. Striker tim nasional Amerika Serikat itu sempat menerima kartu merah dalam sebuah pertandingan, namun sanksinya kemudian dicabut. Yang membuat kasus ini menggelinding lebih jauh adalah adanya laporan soal pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Infantino—yang disinyalir turut memengaruhi keputusan tersebut.
Tebas tidak menyebut adanya bukti konkret, namun ia mengangkat isu ini sebagai bagian dari pola yang ia lihat: FIFA kerap mengambil keputusan berdasarkan tekanan eksternal, bukan berdasarkan prinsip keadilan dan hukum permainan yang baku.
Di sisi lain, Infantino tampak tidak terpengaruh oleh gelombang kritik yang terus mengalir. Ia tetap menyebut Piala Dunia 2026 sebagai sebuah “kesuksesan luar biasa” dan tidak menutup pintu terhadap kemungkinan ekspansi lebih lanjut.
“Kita akan lihat apakah tetap 48 tim atau mungkin 64 tim. Semua akan dibahas dan dianalisis,” ujar Infantino, merespons pertanyaan seputar format turnamen ke depan. Sikapnya yang tenang di tengah badai kritik mencerminkan keyakinan bahwa popularitas dan jangkauan global Piala Dunia justru semakin menguat.
Ketegangan antara Tebas dan Infantino sebenarnya bukan barang baru. Selama bertahun-tahun, Tebas menjadi salah satu suara paling kritis terhadap ekspansi kalender internasional—mulai dari penolakan terhadap Piala Dunia Antarklub yang diperbesar hingga keberatan atas jadwal pertandingan timnas yang dinilai terlalu menyita pemain dari kompetisi domestik.
Bagi Tebas, La Liga bukan sekadar liga sepak bola. Ini adalah ekosistem ekonomi raksasa yang menopang ribuan pekerjaan, menghidupi puluhan klub, dan menjadi tulang punggung industri hiburan Spanyol. Setiap kali FIFA mengambil kebijakan yang menarik pemain keluar dari putaran kompetisi liga lebih lama dari biasanya, dampaknya terasa langsung di neraca keuangan klub-klub La Liga.
Perdebatan ini juga menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang sebenarnya memegang kendali atas sepak bola global? Apakah liga-liga domestik yang menjadi tulang punggung industri, ataukah FIFA sebagai otoritas tertinggi yang menentukan kalender dan format kompetisi internasional?
Hingga kini, jawaban atas pertanyaan itu masih abu-abu. Yang jelas, Tebas sudah memilih jalannya—bersuara keras, bahkan jika itu berarti menantang langsung orang paling berkuasa di sepak bola dunia.
Piala Dunia 2026 masih berlangsung. Tapi perdebatan tentang seperti apa wajah Piala Dunia di masa depan sudah dimulai jauh sebelum trofi diangkat.
FAQ
Mengapa Javier Tebas mendesak Infantino untuk mundur dari jabatan Presiden FIFA?
Tebas menilai Infantino dan FIFA mengambil kebijakan yang merusak ekosistem sepak bola, termasuk rencana memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim yang dianggap mengabaikan kepentingan liga-liga domestik.
Apa dampak perluasan format Piala Dunia terhadap kompetisi liga domestik?
Semakin banyak tim yang berpartisipasi berarti jadwal internasional semakin panjang, yang otomatis menyita ketersediaan pemain untuk klub-klub liga dan berpotensi mengganggu jadwal serta pendapatan kompetisi domestik.
Apakah rencana Piala Dunia 2030 dengan 64 tim sudah resmi diputuskan FIFA?
Belum resmi. Pernyataan tentang format 64 tim datang dari Presiden Conmebol, sementara Infantino menyebut semua opsi masih akan dibahas dan dianalisis lebih lanjut.


Tinggalkan Balasan