Di atas kertas, Aljazair datang dengan modal lebih meyakinkan. Skuad besutan Vladimir Petkovic ini diperkuat sederet pemain yang malang melintang di liga-liga top Eropa, jauh melampaui kedalaman skuad yang dimiliki Yordania.
Riyad Mahrez masih menjadi andalan utama kendati usianya sudah menginjak 35 tahun. Di lini depan, Mohamed Amoura tampil sebagai salah satu penyerang paling tajam yang dimiliki Aljazair dalam beberapa tahun terakhir.
Kreativitas lini tengah Les Fennecs—julukan Aljazair—juga tak bisa dipandang sebelah mata. Duet muda Ibrahim Maza dan Fares Chaibi siap merepotkan pertahanan lawan dengan umpan-umpan terobosan mereka.
Catatan apik Aljazair selama babak kualifikasi, dengan lima kemenangan dan satu hasil imbang dari enam laga, menjadi bukti bahwa tim ini mampu mendikte jalannya pertandingan saat tampil dalam performa terbaik. Namun, kekalahan telak dari Argentina jelas meninggalkan luka yang harus segera disembuhkan.
Di kubu seberang, Yordania tengah menorehkan sejarah baru bagi sepak bola negeri itu. Al-Nashama—julukan Yordania—belum pernah sekalipun tampil di putaran final Piala Dunia sebelumnya, sehingga setiap menit yang mereka lakoni di Amerika Serikat adalah wilayah yang sama sekali baru.


Tinggalkan Balasan