Garcia mengaku tak kecewa dengan hasil tersebut. Menurutnya, laga pembuka di ajang sebesar Piala Dunia memang selalu berat, apalagi menghadapi tim sekuat Mesir.
“Laga pertama dalam turnamen seperti Piala Dunia selalu sulit, terutama saat menghadapi salah satu tim terbaik Afrika seperti Mesir. Hal yang terpenting adalah kami tetap berada dalam pertandingan,” kata Garcia usai laga, dikutip dari laman FIFA.
Di kubu lawan, Iran datang bukan tanpa modal. Amir Ghalenoei memiliki Mehdi Taremi yang tajam di lini depan serta Ehsan Hajsafi yang berpengalaman mengorganisasi pertahanan. Disiplin organisasi permainan menjadi senjata utama Team Melli untuk mengimbangi keunggulan individu para pemain Belgia.
Selain soal taktik, ada satu faktor yang membuat Iran datang dengan motivasi berlipat: situasi di luar lapangan yang jauh dari ideal. Tim ini harus memindahkan basecamp ke Meksiko karena tak mendapat izin tinggal dari pemerintah Amerika Serikat. Bahkan, untuk laga melawan Belgia kali ini, mereka hanya diizinkan berada di Los Angeles selama 24 jam sebelum harus kembali ke Meksiko pada hari yang sama.
Ghalenoei tak menutupi kekecewaannya atas perlakuan yang diterima timnya. Ia bahkan menyebut skuadnya sebagai kontestan paling tertindas di Piala Dunia 2026 kali ini.


Tinggalkan Balasan