Satu nama dari Aljazair turut mencuri perhatian. Ibrahim Maza, gelandang serang Bayer Leverkusen, sudah menjadi andalan tim nasional sejak 2024 meski baru menembus tim utama pada paruh kedua musim debutnya. Aljazair memang tergabung dalam grup berat bersama Argentina, Austria, dan Yordania—tapi justru di sinilah pemain seperti Maza bisa menemukan ketenaran sejatinya.
Di jalur berbeda, Nico Paz—yang lahir di Tenerife namun memilih memperkuat Argentina—berkembang pesat di bawah arahan Cesc Fàbregas di Como. Teknik halus dan visi bermainnya yang tajam berpotensi menjadi pelengkap sempurna dalam mesin juara bertahan.
Tak ketinggalan Kendry Páez dari Ekuador, yang meski baru 19 tahun sudah menorehkan lebih dari 25 penampilan internasional. Chelsea telah mengamankan tanda tangannya pada 2025—sebuah isyarat betapa besarnya kepercayaan industri terhadap pemuda ini.
Dari jalur pertahanan, Piala Dunia 2026 menyimpan dua kisah menarik. Pau Cubarsí menjadi starter Barcelona di usia 17 tahun dan kemungkinan besar akan tampil sejak menit pertama bagi Spanyol. Tidak pernah ada bek yang meraih Pemain Muda Terbaik—Cubarsí bisa mengubah sejarah itu. Begitu pula Luka Vušković dari Kroasia, yang membuktikan dirinya di Bundesliga bersama Hamburg sebelum diproyeksikan menjadi pilar lini belakang Vatreni di grup yang dihuni Inggris, Ghana, dan Panama.
Di kandang sendiri, Nico O’Reilly tampil sebagai salah satu transformasi pemain paling menakjubkan musim ini. Pep Guardiola mengubahnya dari playmaker menjadi bek kiri kelas dunia, dan kini Thomas Tuchel mempercayainya sebagai pilihan reguler timnas Inggris. Fleksibilitas dan kontrol bola rapatnya menjadi nilai lebih yang sulit ditandingi.


Tinggalkan Balasan