OLD TRAFFORD, PUNGGAWASPORT – Michael Carrick masih duduk di kursi pelatih Manchester United. Keputusan mengejutkan manajemen klub untuk mempertahankannya muncul justru di saat banyak pihak yakin karier kepelatihannya di Old Trafford telah berakhir.
Gary Neville, legenda Manchester United yang kini menjadi analis di Sky Sports, mengaku tidak menyangka Carrick masih bertahan. Kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford pada Minggu, 25 Oktober 2026, tampaknya sudah cukup menjadi alasan untuk mengakhiri masa tugasnya, setidaknya menurut Neville.
“Saya senang. Saya terkejut, tetapi saya senang karena saya benar-benar yakin apa yang saya saksikan pada Minggu akan menjadi akhir dari masa Michael,” ujar Neville kepada Sky Sports.
Kekalahan dari Bournemouth bukan sekadar hasil buruk biasa. Itu adalah kekalahan kedelapan tanpa satu pun kemenangan dalam semua kompetisi, sebuah rentetan yang membuat Manchester United terjerembab ke peringkat 16 klasemen sementara Liga Inggris, zona rawan degradasi.
Gestur Carrick seusai pertandingan melawan Bournemouth itulah yang pertama kali menimbulkan kesan di benak Neville dan banyak suporter. Carrick berjalan sendirian mengelilingi lapangan, sementara para pemain mengikutinya dari belakang. Ia melambaikan tangan kepada para pendukung yang masih setia duduk di tribun.
“Terlihat seperti salam perpisahan ketika dia berjalan sendirian mengelilingi lapangan pada akhir pertandingan, sementara para pemain berada di belakangnya. Hampir seperti putaran perpisahan. Dia melambaikan tangan kepada para penggemar, seolah meminta maaf, tetapi juga seperti berpamitan,” ungkap Neville.
Namun Carrick sendiri membantah tafsiran itu. Pelatih berusia 45 tahun tersebut menegaskan bahwa gesturnya bukan perpisahan, melainkan bentuk apresiasi kepada suporter yang tetap hadir dan memberi dukungan meski tim tampil mengecewakan.
“Saya tidak sedang berpamitan,” tegas Carrick dalam konferensi pers.
Ia mengakui bahwa tim belum memberikan hasil dan penampilan yang layak. Tekanan dari berbagai arah terasa nyata, baik dari hasil di lapangan maupun dari sorotan media dan publik. Carrick menyebut para pemain sedang melewati periode yang tidak mudah.
“Saya merasakan berbagai emosi. Saya memikirkan para pemain karena mereka sedang melewati masa sulit. Sebagian situasi bisa kami perbaiki, tetapi ada juga keadaan yang berkembang di luar kendali dan saat ini para pemain merasakannya,” kata Carrick.
Ia menambahkan bahwa hubungan dengan suporter menjadi salah satu hal yang paling ia jaga. Dukungan para pendukung, bahkan di tengah situasi paling berat sekalipun, merupakan hal yang sangat berarti baginya secara pribadi.
Sementara itu, nama-nama pelatih berpengalaman sempat beredar sebagai kandidat pengganti Carrick, di antaranya Eddie Howe, Julian Nagelsmann, Antonio Conte, dan Fabian Hurzeler. Spekulasi itu kini mereda setelah manajemen memilih untuk memberikan Carrick kesempatan lebih lanjut membuktikan diri.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, Carrick tetap memimpinesi latihan di Carrington. Ia mempersiapkan skuadnya secara langsung untuk menghadapi laga berat berikutnya, bertandang ke markas Chelsea dalam lanjutan Liga Inggris.
Neville mendukung keputusan manajemen, meski ia juga mengakui bahwa hasil ke depan lah yang akan menentukan segalanya. Ia menyoroti performa para pemain yang dinilainya belum mencerminkan komitmen penuh dalam beberapa pekan terakhir.
“Saya tidak tahu bagaimana keadaan akan berjalan dalam beberapa pekan ke depan. Saya berharap dia bisa membuat para pemain kembali bermain untuknya. Dalam beberapa pekan terakhir, mereka tidak bermain untuknya,” ujar Neville.
Pertandingan kandang Chelsea menjadi ujian krusial bagi Carrick dan Manchester United. Ironisnya, Chelsea pun datang dengan kondisi yang tidak ideal setelah sebelumnya kalah 0-2 dari Tottenham Hotspur, sehingga kedua tim sama-sama membutuhkan hasil positif untuk menstabilkan posisi mereka.
Manchester United juga telah tersingkir dari Carabao Cup setelah menelan kekalahan 2-3 dari Brighton. Dengan tidak ada lagi kompetisi piala yang bisa dijadikan ajang pemulihan kepercayaan diri, Liga Inggris menjadi satu-satunya arena di mana Carrick harus segera membalikkan keadaan.
Beban yang dipikul Carrick tidak ringan. Tekanan dari luar memang terasa, tetapi tantangan sesungguhnya ada di dalam ruang ganti, yaitu bagaimana ia bisa kembali menyatukan para pemain dan memulihkan semangat juang yang sepertinya sempat hilang dalam rentetan hasil buruk ini.
Partai melawan Chelsea pada Kamis malam waktu setempat bukan hanya soal tiga poin. Ini adalah momen yang bisa menentukan apakah Carrick layak melanjutkan tugasnya atau justru menjadi pelatih dengan masa jabatan paling singkat dalam sejarah modern Manchester United.


Tinggalkan Balasan