Di kubu lawan, performa RD Kongo melawan Portugal pantas mendapat pujian luas. Sebastien Desabre tidak hanya berhasil meredam agresivitas serangan Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan, tetapi juga menunjukkan efisiensi luar biasa dalam transisi dari bertahan ke menyerang.
Statistik pertandingan itu cukup menggambarkan keberhasilan strategi Desabre. Meski hanya menguasai bola sebesar 25 persen, RD Kongo justru melepaskan delapan tembakan dan mencatat angka harapan gol (xG) yang lebih tinggi dibandingkan Portugal.
Hasil imbang melawan tim sekaliber Portugal sudah menjadi pencapaian luar biasa bagi RD Kongo. Mengingat lawan terakhir mereka di fase grup adalah Uzbekistan, besar kemungkinan Desabre akan kembali menerapkan pendekatan serupa, yakni bertahan rapat sembari mengincar setidaknya satu poin dari Kolombia.
Namun strategi ini menyimpan risiko tersendiri. Uzbekistan telah membuktikan diri sebagai lawan yang sulit ditebak, dan mereka kemungkinan akan menganggap laga terakhir grup melawan RD Kongo sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa kelolosan mereka ke Piala Dunia bukan sekadar keberuntungan semata.
Dari sisi taktik, Desabre kemungkinan akan melakukan sejumlah penyesuaian dibandingkan laga melawan Portugal. Saat itu, RD Kongo tampil dengan formasi 5-3-2 yang sangat defensif untuk meredam tekanan tim peringkat atas dunia.


Tinggalkan Balasan