JAKARTA, PUNGGAWASPORT – Dua tim yang lahir dari rahim filosofi yang sama akhirnya bertemu di panggung paling bergengsi sepak bola dunia.
Spanyol dan Argentina akan saling berhadapan dalam laga final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu (19/7/2026) waktu setempat atau Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Ini bukan sekadar final biasa—ini adalah perebutan mahkota antara dua aliran sepak bola yang akarnya berasal dari tempat yang sama: Barcelona.
Wasit Slavko Vincic ditunjuk untuk memimpin partai puncak yang diprediksi berlangsung ketat dan penuh taktik ini.
Keduanya datang ke final dengan status yang tak perlu diragukan. Spanyol adalah juara Euro 2024, sementara Argentina menyandang gelar juara Copa America 2024. Bagi keduanya, Piala Dunia 2026 adalah puncak dari ambisi yang telah lama dipendam.
Bagi La Roja, titel juara dunia akan menyamai pencapaian generasi emas 2010 yang berhasil mengawinkan trofi Piala Dunia dengan gelar Euro 2008—sebuah pencapaian yang belum pernah terulang sejak saat itu. Kapten Rodri, gelandang bertahan yang menjadi jangkar permainan Spanyol di turnamen ini, menegaskan bahwa timnya tidak datang ke Amerika Serikat hanya untuk menikmati perjalanan.
“Tim ini dan generasi ini memang ditakdirkan untuk menciptakan sejarah. Kini kami berhasil mencapai final Piala Dunia. Kami senang dengan perjalanan yang telah ditempuh tim ini, tetapi kami tidak akan berhenti di sini. Ambisi kami jauh lebih besar,” kata Rodri dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, Argentina membawa beban sejarah yang sama beratnya. Jika berhasil menjuarai Piala Dunia 2026, tim berjuluk Albiceleste akan mengukir prestasi langka: juara dunia dua kali beruntun. Hanya dua negara sebelumnya yang pernah melakukannya—Italia (1934 dan 1938) serta Brasil (1958 dan 1962).
Argentina nyaris mewujudkan mimpi serupa 36 tahun lalu. Setelah menjadi juara dunia pada 1986, mereka kembali melangkah ke final Piala Dunia 1990. Namun, gol tunggal Jerman Barat menghancurkan ambisi itu. Kali ini, mereka diberi kesempatan kedua.
Kiper Argentina Emiliano Martinez—yang tampil gemilang sepanjang turnamen—meminta rekan-rekannya menikmati momen bersejarah ini. “Pesan saya kepada rekan-rekan setim adalah mereka harus menikmati momen ini, bersiap dengan senyum di wajah kami. Ini adalah sesuatu yang akan kami ingat selamanya,” ujar Martinez dikutip dari Tribal Football.
Satu hal yang membuat duel ini istimewa adalah kesamaan cara bermain kedua tim. Spanyol dan Argentina sama-sama mengandalkan penguasaan bola sebagai senjata utama—menekan lawan, mengatur tempo, dan menciptakan ruang secara perlahan namun mematikan.
Xavi Hernandez, legenda Spanyol yang kini menjadi pundit, melihat kesamaan ini bukan sekadar kebetulan. Ia menyebutnya sebagai buah dari filosofi tiki-taka Barcelona yang akarnya sudah menjalar ke mana-mana. Dalam skuad La Roja saat ini, banyak pemain berasal dari Blaugrana. Sementara di Argentina, ada Lionel Messi—pria yang selama 17 tahun mengabdikan dirinya untuk Barcelona dan menyerap habis filosofi tersebut.
“Kami harus bangga dengan filosofi dan ide permainan ini. Ini adalah satu filosofi yang masih terus hidup. Kami berada di final dengan sistem permainan seperti ini, bahkan Argentina juga,” kata Xavi.
Javier Mascherano, yang pernah mengabdi di kedua kubu, menilai kemiripan gaya bermain kedua tim sudah di level yang mencolok. “Menurut saya, ini adalah dua tim terbaik di turnamen. Keduanya bermain dengan gaya serupa,” ujar mantan pemain Argentina dan Barcelona itu.
Ada faktor lain yang mempererat ikatan filosofis kedua tim ini: hubungan antara dua pelatih kepala mereka. Lionel Scaloni dan Luis de la Fuente ternyata pernah duduk di bangku yang sama dalam kursus kepelatihan yang diselenggarakan Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF), sepuluh tahun silam. Saat itu, de la Fuente adalah instruktur, sementara Scaloni adalah peserta kursusnya.
Keduanya disebut berbagi visi yang serupa: mengutamakan pengelolaan sumber daya manusia dan kepemimpinan kelompok dibanding dogmatisme taktis. Hasilnya terlihat jelas—kedua tim tampil kohesif, adaptif, dan sulit ditaklukkan.
“Luis mengenal saya secara pribadi, tetapi ia tidak tahu apa pendapat saya tentang sepak bola. Kami tahu bagaimana tim kami bermain, tetapi kami belum membahas pola permainan masing-masing,” ungkap Scaloni dengan tenang.
Meski filosofi serupa, pendekatan di lapangan tetap memiliki perbedaan mencolok. Spanyol tampil sebagai mesin yang nyaris sempurna di Piala Dunia 2026 ini. Dalam tujuh pertandingan, La Roja hanya kebobolan sekali—menjadikan lini pertahanan mereka salah satu yang paling solid dalam sejarah turnamen.
Argentina, sebaliknya, datang ke final melalui jalan yang penuh liku. Mereka bukan tim yang mulus, tetapi justru di situlah kekuatan mereka: semangat untuk bangkit.
Contoh paling dramatis terjadi di babak semifinal melawan Inggris. Argentina tertinggal lebih dulu lewat gol Anthony Gordon di menit ke-55. Alih-alih panik, Albiceleste terus menekan. Tendangan keras Enzo Fernandez dari luar kotak penalti di menit ke-85 menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Tujuh menit berselang, umpan silang Messi disambut sundulan Lautaro Martinez untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1. Argentina lolos ke final dengan cara yang seolah sudah menjadi ciri khas mereka: dramatis, pantang menyerah.
“Tim ini tidak pernah membuat saya terkejut. Saya tahu, dan kami semua tahu, apa yang mampu kami lakukan. Ketika kami bersatu dan kompak, itu selalu memberi kami dorongan tambahan,” kata Messi usai laga.
Final ini menawarkan pertanyaan besar: apakah tembok kokoh Spanyol mampu menahan semangat juang Argentina yang seperti tak pernah padam? Atau justru Messi dan kawan-kawan yang akan mencetak nama mereka dalam tinta emas sejarah sepak bola dunia?
Peluang keduanya dinilai seimbang—fifty-fifty. Dan itulah yang membuat final ini layak untuk ditunggu.
Perkiraan Susunan Pemain
Spanyol (4-2-3-1): 23-Unai Simon; 12-Pedro Porro, 22-Pau Cubarsi, 14-Aymeric Laporte, 24-Marc Cucurella; 16-Rodri, 8-Fabian Ruiz; 19-Lamine Yamal, 10-Dani Olmo, 15-Alex Baena; 21-Mikel Oyarzabal.
Cadangan: 1-David Raya, 13-Joan Garcia, 2-Marc Pubill, 3-Alex Grimaldo, 4-Eric Garcia, 5-Marcos Llorente, 6-Mikel Merino, 9-Gavi, 11-Yeremy Pino, 18-Martin Zubimendi, 20-Pedri, 7-Ferran Torres, 17-Nico Williams, 25-Victor Munoz, 26-Borja Iglesias.
Pelatih: Luis de la Fuente
Argentina (4-4-2): 23-Emiliano Martinez; 26-Nahuel Molina, 13-Cristian Romero, 6-Lisandro Martinez, 3-Nicolas Tagliafico; 7-Rodrigo De Paul, 5-Leandro Paredes, 24-Enzo Fernandes, 20-Alexis Mac Allister; 10-Lionel Messi, 9-Julian Alvarez.
Cadangan: 1-Juan Musso, 12-Geronimo Rulli, 2-Marcos Senesi, 4-Gonzalo Montiel, 8-Valentin Barco, 19-Nicolas Otamendi, 25-Facundo Medina, 11-Giovani Lo Celso, 14-Exequiel Palacios, 18-Nico Paz, 16-Thiago Almada, 15-Nicolas Gonzalez, 17-Giuliano Simeone, 21-Jose Lopez, 22-Lautaro Martinez.
Pelatih: Lionel Scaloni
Pertemuan Kedua Tim
17/11/99 – Spanyol 0-2 Argentina – Persahabatan
12/10/2006 – Spanyol 2-1 Argentina – Persahabatan
15/11/2009 – Spanyol 2-1 Argentina – Persahabatan
8/9/2010 – Argentina 4-1 Spanyol – Persahabatan
28/3/2018 – Spanyol 6-1 Argentina – Persahabatan
Lima Pertandingan Terakhir Spanyol
27/6/2026 – Uruguay 0-1 Spanyol – Piala Dunia 2026
3/7/2026 – Spanyol 3-0 Austria – Piala Dunia 2026
7/7/2026 – Portugal 0-1 Spanyol – Piala Dunia 2026
11/7/2026 – Spanyol 2-1 Belgia – Piala Dunia 2026
15/7/2026 – Prancis 0-2 Spanyol – Piala Dunia 2026
Lima Pertandingan Terakhir Argentina
28/6/2026 – Yordania 1-3 Argentina – Piala Dunia 2026
4/7/2026 – Argentina 3-2 Tanjung Hijau (AET) – Piala Dunia 2026
7/7/2026 – Argentina 3-2 Mesir – Piala Dunia 2026
12/7/2026 – Argentina 3-1 Swis (AET) – Piala Dunia 2026
16/7/2026 – Inggris 1-2 Argentina – Piala Dunia 2026
FAQ
Kapan dan di mana final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina digelar?
Final digelar di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu 19 Juli 2026 waktu setempat atau Senin 20 Juli 2026 dini hari WIB.
Apa yang dipertaruhkan Argentina jika berhasil menjuarai Piala Dunia 2026?
Argentina akan mencatat sejarah sebagai juara dunia dua kali beruntun jika mengalahkan Spanyol, bergabung bersama Italia dan Brasil sebagai satu-satunya negara yang pernah melakukannya.
Apa kesamaan gaya bermain Spanyol dan Argentina di Piala Dunia 2026?
Keduanya mengandalkan penguasaan bola sebagai fondasi permainan—sebuah filosofi yang akarnya ditelusuri hingga ke gaya tiki-taka Barcelona, tempat banyak pemain Spanyol bernaung dan tempat Messi menghabiskan 17 tahun kariernya.


Tinggalkan Balasan