Yoga Ardika Putra, sang peraih perunggu, mengaku tak menyembunyikan harapan besarnya pascaperhelatan ini. Ia ingin momentum Asian Games menjadi titik balik bagi perkembangan teqball di tanah air. Dukungan penuh dari pemerintah dan federasi, menurutnya, adalah kunci agar teqball Indonesia tidak berhenti di sini.
“Dengan hasil kita, target medali ini tercapai. Ke depannya, semoga mendapat dukungan penuh untuk federasi teqball di Indonesia agar ke depannya lebih berkembang,” ungkap Yoga usai pertandingan.
Sementara itu, Sumaya tampil dengan semangat yang tak kalah membara. Meski harus puas dengan perak setelah kalah di partai final, ia memandang capaian ini sebagai buah dari kerja keras panjang yang tidak ternilai harganya. Debut di panggung Asian Games, baginya, adalah pengalaman yang jauh melampaui sekadar angka di papan skor.
“Walaupun kalah, saya tetap bangga sama diri saya sendiri dan usaha saya selama ini. Ini debut pertama saya di Asian Games dan perjuangannya sungguh luar biasa,” tutur Sumaya dengan mata berbinar.
Keberhasilan di Nagoya-Aichi ini sesungguhnya bukan kejutan bagi mereka yang mengikuti perkembangan teqball Indonesia. Jauh sebelum Asian Games 2026, para atlet Merah Putih sudah menunjukkan tajinya di berbagai kompetisi internasional bergengsi.


Tinggalkan Balasan