BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Sementara itu, Kroasia datang ke Amerika Utara bukan sebagai tim yang datang untuk menikmati perjalanan. Zlatko Dalic membawa skuad dengan tujuh kemenangan dan satu hasil seri di kualifikasi Eropa — konsistensi yang membuktikan bahwa Vatreni bukan sekadar tim kejutan sesaat.

Dua edisi Piala Dunia terakhir berbicara lantang tentang karakter Kroasia. Runner-up pada 2018, peringkat ketiga pada 2022 — mereka selalu hadir di momen-momen penting turnamen dan jarang mengecewakan. Prestasi itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem dan kepemimpinan yang telah teruji.

Jantung dari Kroasia adalah Luka Modric. Usia 40 tahun tidak mengubah status sang kapten sebagai pemain kunci. Ia bukan lagi pemain yang akan berlari sepanjang 90 menit, tetapi pengaruhnya terhadap mentalitas dan irama permainan tim tetap tak tergantikan. Kepemimpinannya adalah aset yang tidak bisa dinilai dengan angka.

Modric paham betul tantangan yang menanti. “Kami menghormati semua orang, tetapi kami tidak takut pada siapa pun. Sekarang terserah kami untuk membuktikannya di lapangan. Kami ingin membuat semua orang Kroasia bangga,” ujar Modric seperti dikutip Goal.

Di sisinya berdiri Mateo Kovacic yang baru saja pulih dari cedera panjang. Gelandang berusia 32 tahun itu sudah kembali menemukan ritmenya setelah diturunkan dalam dua laga uji coba terakhir Kroasia melawan Belgia dan Slovenia. Pengalamannya bertahun-tahun di Premier League — bersama Chelsea dan kini Manchester City — memberikan Kovacic pemahaman mendalam tentang kualitas para pemain Inggris yang mayoritas berkarier di liga yang sama.



Follow Widget

KLASEMEN PIALA DUNIA FIFA 2026