Di luar Belo Horizonte, ada “Laga Abad Ini” di Mexico City pada 1970—semifinal melawan Italia yang berakhir 4-3 setelah perpanjangan waktu dan masih dikenang sebagai salah satu pertandingan terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Ada pula “Malam Sevilla” pada 1982, ketika Jerman Barat tertinggal 3-1 dari Prancis di babak tambahan, namun memaksakan adu penalti dan menang—menciptakan drama adu penalti pertama dalam sejarah Piala Dunia.
Piala Dunia 2006 di kandang sendiri memberi kenangan berbeda. Jerman gagal ke final setelah kalah dari Italia di semifinal, namun turnamen itu meninggalkan warisan berupa pesta rakyat yang meriah—fan miles yang dipenuhi jutaan orang dan semangat nasionalisme yang hangat tanpa arogansi.
Dari sisi individu, Miroslav Klose memegang catatan tertinggi sebagai pencetak gol terbanyak Jerman di Piala Dunia dengan 16 gol dalam empat edisi. Klose melampaui legenda Gerd Muller yang mencatatkan 14 gol, sekaligus melampaui Ronaldo dari Brasil untuk menjadi top skor sepanjang masa turnamen ini. Sementara itu, Lothar Matthaus memegang rekor penampilan terbanyak Jerman dengan 25 caps di Piala Dunia—sebuah rekor dunia yang akhirnya dilampaui Lionel Messi pada 2022.
Kini di Amerika Utara, Jerman datang dalam kondisi yang belum sepenuhnya rampung. Skuad masih dalam transisi, beberapa pemain kunci baru saja pulih dari cedera panjang, dan tekanan ekspektasi publik jauh lebih besar dari yang pernah dirasakan sebelumnya. Namun justru dalam kondisi seperti inilah sejarah sering ditulis ulang.
Nagelsmann memiliki semua bahan yang dibutuhkan—taktik, pemain muda berbakat, dan pelajaran pahit dari dua turnamen sebelumnya. Pertanyaannya bukan apakah Jerman bisa bersaing, melainkan seberapa jauh mereka bersedia melangkah.
