MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Empat kali juara dunia itu datang dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Jerman tiba di Piala Dunia FIFA 2026 membawa beban dua kekalahan fase grup berturut-turut—sebuah aib yang tidak pernah mereka bayangkan bisa menimpa salah satu kekuatan terbesar sepanjang sejarah turnamen ini.
Turnamen di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat ini menjadi penampilan ke-21 Jerman di Piala Dunia secara keseluruhan dan ke-19 secara beruntun. Angka yang luar biasa—namun kini diiringi tanda tanya besar: apakah Julian Nagelsmann mampu mengembalikan kejayaan yang sudah lama hilang?
Nagelsmann bukan nama baru di dunia sepak bola Eropa. Pelatih berusia 38 tahun itu—yang menjadi pelatih termuda dalam sejarah tim nasional Jerman—sebelumnya membangun reputasi cemerlang bersama Hoffenheim, RB Leipzig, dan Bayern Munich. Ia ditunjuk pada September 2023 menggantikan Hansi Flick yang dipecat, dan kini sudah memperpanjang kontraknya hingga EURO 2028.
Di bawah kendalinya, Jerman cenderung bermain dengan pressing terstruktur dan pertahanan yang lebih solid dibanding era Flick. Transisi cepat tetap menjadi identitas tim, meskipun risiko penguasaan bola sengaja dikurangi. Nagelsmann sedang membangun ulang tim ini—tidak terburu-buru, tetapi dengan arah yang jelas.
Perjalanan menuju Amerika Utara tidak semulus yang diharapkan. Jerman tampil di Grup A kualifikasi bersama Slowakia, Irlandia Utara, dan Luksemburg, dan langsung tersandung pada laga pertama. Mereka kalah 2-0 di Bratislava—hasil yang mengejutkan sekaligus mempermalukan.
