MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Korea Selatan kembali membuktikan diri sebagai kekuatan sepak bola Asia yang tak tergoyahkan. Untuk kesebelas kalinya berturut-turut sejak 1986, Taeguk Warriors memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia FIFA — kali ini menuju Amerika Utara 2026, turnamen bersejarah yang untuk pertama kalinya diikuti 48 negara.
Pencapaian ini bukan sekadar angka. Korea Selatan menjadi satu-satunya tim di Asia yang melewati seluruh kualifikasi tanpa sekali pun menelan kekalahan — sebuah catatan yang mencerminkan soliditas tim di bawah arahan pelatih baru mereka, Hong Myung-bo.
Hong bukan nama asing di dunia sepak bola Korea. Ia adalah legenda hidup yang pernah memakai ban kapten di Piala Dunia 2002, kini kembali duduk di kursi kepelatihan setelah sepuluh tahun. Ia menggantikan Jurgen Klinsmann pada Juli 2024 dan langsung membawa stabilitas yang lama dirindukan.
Rekam jejak Hong sebagai pelatih berbicara sendiri. Ia membawa tim U-20 ke perempat final Piala Dunia 2009, meraih medali perunggu Olimpiade London 2012, lalu melatih Ulsan HD dan mengakhiri puasa gelar 16 tahun dengan dua gelar K League 1 berturut-turut pada 2022 dan 2023. Ulsan bahkan lolos ke FIFA Club World Cup 2025 — sebuah prestasi yang semakin memperkuat reputasinya.
Perjalanan kualifikasi Korea Selatan menuju 2026 berjalan mulus. Di putaran kedua, mereka satu grup dengan Tiongkok, Thailand, dan Singapura. Hanya satu hasil imbang yang tercatat — melawan Thailand dengan skor 1-1 — selebihnya kemenangan penuh. Di putaran ketiga, mereka menghadapi Yordania, Irak, Oman, Palestina, dan Kuwait di Grup B. Enam kemenangan dan empat hasil imbang mengantarkan mereka sebagai pemuncak grup, sekaligus memastikan tiket ke putaran final dengan kepala tegak.
Di Piala Dunia 2026, Korea Selatan akan bermain di Grup dengan jadwal yang menantang. Laga pertama dijadwalkan pada 11 Juni menghadapi pemenang play-off Eropa (dari Ceko, Denmark, Makedonia Utara, atau Republik Irlandia) di Estadio Guadalajara. Kemudian pada 18 Juni melawan Meksiko di kandang sendiri mereka, masih di Guadalajara. Laga terakhir fase grup, 24 Juni, menghadapi Afrika Selatan di Estadio Monterrey.
Ini akan menjadi penampilan ke-12 Korea Selatan di putaran final Piala Dunia — perjalanan panjang yang dimulai dari debut pahit di Swiss 1954. Kala itu, kurang dari setahun setelah Perang Korea, sebagian pemain bahkan harus diterbangkan ke Eropa menggunakan pesawat angkut militer Amerika Serikat setelah perjalanan melelahkan 60 jam. Di lapangan, mereka kalah 9-0 dari Hungaria dan 7-0 dari Turki, mengakhiri turnamen tanpa sebutir pun gol.
Namun cerita Korea Selatan tidak berhenti di sana. Puncak tertinggi mereka datang saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang. Dipimpin Hong Myung-bo sebagai kapten, Korea Selatan mengalahkan Polandia 2-0 pada laga pembuka, lalu menyingkirkan Italia lewat golden goal Ahn Jung-hwan di babak 16 besar — salah satu momen paling dramatis dalam sejarah turnamen. Spanyol pun tumbang di perempat final melalui adu penalti. Perjalanan mereka baru terhenti di semifinal, dikalahkan Jerman 1-0, sebelum Turki mengalahkan mereka 3-2 di perebutan tempat ketiga. Finis di posisi empat besar menjadi pencapaian terbaik tim Asia sepanjang sejarah Piala Dunia.
Delapan tahun setelah euforia 2002, Korea Selatan membuat sejarah berbeda di Afrika Selatan 2010. Mereka membuktikan bahwa kesuksesan 2002 bukan semata karena dukungan tuan rumah. Kemenangan 2-0 atas Yunani melalui gol Lee Jung-soo dan Park Ji-sung menjadi pembuka. Meski kalah besar dari Argentina, hasil imbang 2-2 yang dramatis melawan Nigeria memastikan tiket ke babak 16 besar — pertama kalinya Korea Selatan melaju sejauh itu di luar kandang sendiri. Legenda bek Lee Young-pyo menyebut pencapaian itu sebagai titik balik: membuktikan Korea mampu bersaing di mana pun.
Di Rusia 2018, Korea Selatan menghasilkan momen yang mungkin paling mengejutkan dalam sejarah turnamen modern. Meski tersingkir di fase grup, mereka menaklukkan juara bertahan Jerman 2-0 — salah satu hasil paling menggemparkan yang pernah dicatat. Gol Kim Young-gwon dan Son Heung-min di masa tambahan waktu mengirim Jerman pulang lebih awal. Dunia terkesima, dan nama Son semakin diukir dalam sejarah.
Di Qatar 2022, di bawah asuhan Paulo Bento, Korea Selatan kembali lolos dari fase grup. Setelah hasil imbang 0-0 melawan Uruguay dan kekalahan 3-2 dari Ghana, mereka bangkit dengan kemenangan dramatis 2-1 atas Portugal untuk melaju ke babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam 12 tahun. Namun perjalanan terhenti di sana, setelah takluk 4-1 dari Brasil.
Bicara statistik, Korea Selatan telah memainkan 38 pertandingan di putaran final Piala Dunia dengan torehan 7 menang, 10 seri, dan 21 kalah, mencetak 39 gol dan kebobolan 78. Catatan yang terlihat modest, namun di balik angka-angka itu tersimpan momen-momen yang mengubah lanskap sepak bola Asia selamanya.
Dari sisi individu, Ahn Jung-hwan dan Son Heung-min berbagi predikat pencetak gol terbanyak Korea di Piala Dunia dengan masing-masing tiga gol. Sementara Hong Myung-bo — kini sang pelatih — masih memegang rekor penampilan terbanyak dengan 16 pertandingan dalam empat edisi turnamen. Son, yang sudah mencatatkan sepuluh penampilan, berpotensi menggeser rekor itu tergantung seberapa jauh Korea melangkah di 2026.
Dengan Son Heung-min yang masih menjadi jangkar serangan, Lee Kang-in yang semakin matang, dan Hong Myung-bo yang membawa pengalaman serta mentalitas juara, Korea Selatan datang ke Amerika Utara bukan hanya untuk hadir — mereka datang untuk meninggalkan jejak baru.
FAQ
Kapan dan di mana Korea Selatan akan bermain di Piala Dunia 2026?
Korea Selatan dijadwalkan menjalani tiga laga fase grup: 11 Juni di Guadalajara melawan wakil play-off Eropa, 18 Juni di Guadalajara melawan Meksiko, dan 24 Juni di Monterrey melawan Afrika Selatan.
Siapa pelatih Korea Selatan di Piala Dunia 2026?
Korea Selatan dilatih oleh Hong Myung-bo, legenda sepak bola Korea yang pernah menjadi kapten tim di Piala Dunia 2002. Ia kembali menangani tim nasional sejak Juli 2024.
Apa pencapaian terbaik Korea Selatan di Piala Dunia?
Pencapaian terbaik Korea Selatan adalah finis di posisi keempat saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang, menjadikan mereka tim Asia pertama yang menembus babak semifinal Piala Dunia.


Tinggalkan Balasan