Ada satu sub-teks menarik yang menyertai duel ini: hubungan antara Mohamed Salah dan Rudi Garcia. Keduanya pernah bekerja sama di AS Roma, jauh sebelum Salah bertransformasi menjadi salah satu penyerang terbaik yang pernah ada di dunia. Garcia kini berhadapan dengan murid terbaiknya, tapi kali ini bukan dalam konteks kolaborasi — melainkan persaingan.
Garcia sendiri tidak menutupi rasa hormatnya kepada Mesir. “Kami sangat menghormati tiga tim lain yang berada di grup kami,” katanya kepada FIFA.com. “Kami mengenal Mesir dengan baik, mereka adalah salah satu tim terbaik di Afrika. Saya sangat mengenal Mo Salah karena saya pernah melatihnya di Roma.”
Pelatih berkebangsaan Prancis itu sadar betul bahwa modal untuk melangkah jauh di Piala Dunia dimulai dari hal yang paling mendasar: memenangkan fase grup. “Mari mulai dengan menghormati lawan-lawan kami di fase grup. Mari mengalahkan mereka, finis sebagai juara grup, lalu kita lihat seberapa jauh kami bisa melangkah,” tegasnya.
Di kubu The Pharaohs, Hossam Hassan tidak berpura-pura bahwa ini akan mudah. Ia secara terbuka mengakui bahwa laga melawan Belgia adalah tantangan terberat di fase grup. “Pertandingan pembuka melawan Belgia di Piala Dunia akan sangat sulit, dan grup ini kuat dan sangat kompetitif,” katanya.
Tapi justru dari titik itulah ambisi Mesir lahir. Selama bertahun-tahun, tim ini selalu berjuang keras hanya untuk lolos ke Piala Dunia. Kini mereka sudah ada di sini, dan target mereka bukan sekadar berpartisipasi — mereka ingin pertama kali dalam sejarah menembus babak gugur Piala Dunia.


Tinggalkan Balasan