Punggawa utama Jerman tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Joshua Kimmich dari Bayern Munich hadir sebagai metronom di lini tengah, mengatur tempo dan memimpin dengan pengalaman panjangnya di level tertinggi. Di sisinya, Jamal Musiala — juga dari Bayern — tampil sebagai ancaman kreatif yang sulit diprediksi, kombinasi kecepatan berpikir dan teknik yang membuat pertahanan lawan kewalahan.
Kai Havertz, bintang Arsenal yang baru saja mencetak gol di final Liga Champions keduanya, menjadi ujung tombak yang tak bisa diremehkan. Sementara Manuel Neuer, sang kiper legendaris berusia 40 tahun, menjadikan turnamen ini sebagai penutup karier yang epik. Ini kemungkinan besar penampilan terakhir Neuer di Piala Dunia, dan dia tentu ingin menutupnya dengan cara terbaik.
Skuad lengkap Jerman juga menyertakan nama-nama seperti Florian Wirtz dari Liverpool, Leroy Sane yang kini berseragam Galatasaray, serta sejumlah wajah muda berbakat yang siap membuktikan diri. Kedalaman skuad ini menjadi keunggulan nyata Die Mannschaft.
Jalan Jerman menuju Houston tidak ada hambatan berarti. Mereka meraih lima kemenangan dari enam pertandingan di Grup A Kualifikasi UEFA, finis di puncak klasemen dan lolos langsung tanpa perlu melalui babak playoff.
Di sisi lain, perjalanan Curaçao adalah dongeng yang belum pernah ditulis sebelumnya. Dipimpin oleh Dick Advocaat — pelatih veteran asal Belanda dengan segudang pengalaman melatih tim nasional — Curaçao menjalani kualifikasi CONCACAF dengan penuh determinasi.


Tinggalkan Balasan