Pada babak kedua kualifikasi, Curaçao mendominasi Grup C dengan catatan sempurna: empat menang, tanpa seri, tanpa kalah, dengan selisih gol mencapai +13. Kemudian di babak final kualifikasi, mereka menghadapi lawan-lawan lebih tangguh seperti Jamaika dan Trinidad & Tobago, namun tetap tak terkalahkan — tiga menang, tiga seri.
Pemain kunci Curaçao dalam perjalanan menuju Amerika adalah Gervane Kastaneer, top skor kualifikasi mereka dengan lima gol. Leandro Bacuna, mantan bintang Aston Villa yang kini bermain di Turki, menyumbangkan tiga assist dan menjadi penggerak serangan. Tahith Chong, eks pemain Manchester United yang kini bermain untuk Sheffield United, juga siap menjadi sumber ancaman lewat sisi sayap.
Namun pekerjaan terberat kemungkinan akan jatuh ke tangan Eloy Room. Kiper yang bermain untuk Miami FC ini diprediksi bakal sangat sibuk menghadapi serangan bertubi-tubi dari para penggawa Jerman yang lapar gol.
Secara realistis, Curaçao tidak akan bermain menyerang terbuka. Advocaat, seorang pragmatis ulung, hampir pasti akan memilih pendekatan bertahan yang terorganisir, berusaha meminimalkan kebobolan, lalu berharap memanfaatkan peluang yang mungkin muncul dari serangan balik.
Bagi Jerman, pertandingan ini bukan sekadar soal menang. Ini tentang menang dengan meyakinkan, membangun kepercayaan diri, dan mengirimkan pesan kepada rival-rival besar mereka di Grup E maupun secara keseluruhan di turnamen ini.


Tinggalkan Balasan