Ada sedikit bayangan kekhawatiran soal kondisi fisik beberapa pemain kunci. Roozbeh Cheshmi, Saeid Ezzatolahi, dan Alireza Jahanbakhsh masih dibayangi tanda tanya terkait kebugaran mereka menjelang laga pembuka. Namun secara keseluruhan, Iran tetap tampil sebagai tim yang terorganisasi, disiplin secara taktis, dan berbahaya di sepertiga akhir lapangan lawan.
Di sisi lain, New Zealand datang dengan beban yang jauh lebih berat dari yang terlihat. Peringkat FIFA mereka ada di posisi 85, tampil di Piala Dunia untuk ketiga kalinya, dan belum pernah sekalipun lolos dari fase grup. Rekor itu berbicara sendiri.
Masalah terbesar “All Whites” bukan soal kualitas pemain, melainkan konsistensi. Sejak memastikan tiket ke Amerika Utara, performa mereka mengkhawatirkan. Dari 11 laga terakhir, mereka hanya menang sekali dan menelan sembilan kekalahan — termasuk ditekuk Haiti 0-4 dan Inggris 0-1 dalam uji coba terakhir menjelang turnamen.
Kondisi itu membuat dua sisi permainan mereka sama-sama mengkhawatirkan. Lini belakang New Zealand belum pernah mencatatkan clean sheet sejak Juni 2025. Sementara lini depan mereka juga seret — hanya mampu mencetak satu gol dalam lima pertandingan terakhir. Ketika ofensif macet dan defensif bocor, maka setiap pertandingan menjadi ujian keberanian.
Chris Wood menjadi tumpuan besar harapan itu. Penyerang veteran yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa di timnas Selandia Baru ini masih menjadi satu-satunya nama yang mampu mengancam gawang lawan dengan konsisten. Di sekelilingnya ada Max Crocombe, Michael Boxall, Liberato Cacace, dan Tim Payne — para pemain berpengalaman yang diharapkan menjaga stabilitas tim di tengah turbulensi performa.


Tinggalkan Balasan