BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Setelah menghadapi Argentina, Aljazair masih harus bertemu Yordania dan Austria dalam fase grup. Dua laga itu menjadi peluang bagi Les Fennecs untuk mengumpulkan poin demi mengamankan tiket ke babak gugur. Apabila berhasil lolos sebagai runner-up grup, skenario mempertemukan mereka dengan Inggris di babak 16 besar pun terbuka lebar — meski semua bergantung pada hasil di grup-grup lain.

Bagi Luca Zidane secara pribadi, Piala Dunia 2026 adalah momen yang melampaui sekadar urusan teknis sepak bola. Sang ayah, Zinedine Zidane, adalah salah satu pemain terbaik yang pernah ada — pemimpin Prancis meraih Piala Dunia 1998 di kandang sendiri, mengangkat trofi Euro 2000, dan menjadi pemain terbaik dunia tiga kali sepanjang kariernya. Warisan itu besar, dan bayang-bayangnya panjang.

Namun Luca memilih tidak berlari dari nama itu. Ia justru membangun identitasnya sendiri — sebagai penjaga gawang dari Aljazair, negara yang menjadi akar keluarganya. Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan panjang, dan kini ia mendapat kesempatan membuktikan diri di panggung terbesar sepak bola dunia.

Piala Dunia 2026 juga akan menandai kehadiran kelima Aljazair di turnamen bergengsi ini. Penampilan terakhir mereka terjadi di Brasil pada 2014, ketika Les Fennecs berhasil menembus babak 16 besar sebelum takluk dari Jerman — tim yang akhirnya keluar sebagai juara dunia. Lebih dari satu dekade berselang, Aljazair kembali hadir dengan generasi baru, dengan semangat baru, dan dengan nama-nama yang siap menorehkan sejarahnya sendiri.



Follow Widget

Published by Punggawa Sport

Editor

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version