Yang membuat Spanyol semakin berbahaya bukan hanya soal nama, melainkan cara mereka bermain. Kesit menilai La Roja tampil lebih kolektif dibandingkan Argentina sepanjang turnamen. Pola satu-dua sentuhan yang mengalir rapi dari lini ke lini membuat mereka konsisten menciptakan peluang berbahaya di setiap pertandingan.
Dari fase grup hingga babak semifinal, Spanyol memperlihatkan konsistensi yang sulit dibantah. Mereka sabar menguasai bola, namun berubah menjadi sangat cepat dan mematikan begitu memasuki sepertiga akhir pertahanan lawan. Pendekatan kolektif inilah yang membuat Spanyol tidak bergantung pada satu sosok, berbeda dari Argentina yang masih sangat mengandalkan sihir Messi.
“Sejak fase grup sampai semifinal mereka terus memperlihatkan penampilan yang begitu impresif. Mereka sangat sabar memainkan bola, tetapi begitu masuk ke area pertahanan lawan, mereka sangat cepat menciptakan peluang,” jelas Kesit.
Namun faktor pengalaman tetap menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Messi sudah merasakan pahitnya kekalahan di final, menjalani perjalanan panjang menuju puncak, dan akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia pada 2022. Rekam jejak itu membentuk mentalitas yang berbeda — ketenangan di bawah tekanan yang tidak bisa dibeli dengan bakat semata.
Itulah yang membuat Kesit menilai Argentina tetap layak difavoritkan, meski Spanyol jelas bukan lawan yang bisa diremehkan. Final ini, menurut dia, menjanjikan tontonan yang bukan hanya soal siapa yang lebih kuat, melainkan juga siapa yang lebih lapar.


Tinggalkan Balasan