MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Dua belas tahun adalah waktu yang panjang untuk menanti. Tapi bagi Les Elephants, penantian itu kini berakhir. Pantai Gading resmi kembali ke panggung Piala Dunia FIFA setelah absen sejak edisi Brasil 2014, dan kali ini mereka datang bukan sekadar untuk tampil—melainkan untuk menembus babak gugur yang selama tiga keikutsertaan sebelumnya selalu luput dari genggaman mereka.
Tim asuhan Emerse Fae akan berkompetisi di Amerika Utara dalam Piala Dunia FIFA 2026, bergabung bersama Jerman, Ekuador, dan Curacao dalam Grup C. Bagi para penggemar Afrika Barat itu, ini adalah momen yang ditunggu-tunggu dengan penuh harap sekaligus beban sejarah.
Fae sendiri bukan nama sembarangan di bangku pelatih. Ia mengambil alih kendali tim pada Januari 2024 dalam kondisi yang jauh dari ideal: menggantikan Jean-Louis Gasset di tengah Piala Afrika CAF. Bagi banyak orang, penunjukan pelatih berusia 41 tahun yang relatif minim pengalaman itu dipandang sebelah mata. Kenyataannya berbicara lain.
Hanya beberapa pekan setelah dipromosikan dari posisi asisten pelatih, Fae membawa Pantai Gading menjuarai Piala Afrika 2024 di kandang sendiri. Final melawan Nigeria dimenangkan 2-1—sebuah pencapaian yang langsung mengukuhkan reputasinya sebagai taktisi muda yang patut diperhitungkan. Mantan gelandang internasional itu kini bukan lagi sekadar “pelatih sementara”.
Momentum itu berlanjut ke kualifikasi Piala Dunia. Pantai Gading tampil luar biasa di Grup F kualifikasi Afrika, meraih posisi puncak dengan catatan tak terkalahkan dalam sepuluh pertandingan—dan yang lebih mengesankan, tanpa sekalipun kebobolan. Pertahanan sekokoh beton menjadi identitas baru tim ini.
Tiket ke Amerika Utara digenggam setelah kemenangan 3-0 atas Kenya pada laga terakhir kualifikasi. Di sepanjang jalan, Seko Fofana dari Rennes menjadi top skor tim dengan tiga gol. Nama-nama seperti Simon Adingra, Yan Diomande, Evann Guessand, Sebastien Haller, Franck Kessie, Karim Konate, Ibrahim Sangare, dan Hamed Traore masing-masing menyumbang dua gol. Kedalaman skuad menjadi senjata utama Fae.
Di Piala Dunia 2026, Les Elephants akan memulai kampanye mereka melawan Ekuador pada 14 Juni di Philadelphia. Laga kedua adalah duel besar melawan Jerman pada 20 Juni di Toronto. Mereka mengakhiri fase grup dengan menghadapi Curacao pada 25 Juni, kembali di Philadelphia.
Sejarah Pantai Gading di Piala Dunia sesungguhnya adalah kisah tentang potensi besar yang belum pernah sepenuhnya terwujud. Debut mereka datang pada Piala Dunia 2006 di Jerman, dan langsung dengan undian yang kejam: satu grup bersama Argentina dan Belanda. Di bawah Henri Michel—yang saat itu memimpin tim nasional untuk kelima kalinya dalam kariernya—mereka bermain kompetitif namun kandas.
Kekalahan 2-1 dari Argentina di laga pembuka terasa menyakitkan, meski Didier Drogba sempat memperkecil ketertinggalan. Laga kedua berakhir dengan hasil serupa melawan Belanda. Namun Les Elephants tutup buku dengan kemenangan dramatis 3-2 atas Serbia dan Montenegro—sebuah hasil yang hanya menjadi hiburan, bukan tiket lolos.
Empat tahun kemudian di Afrika Selatan 2010, Pantai Gading memberikan penampilan terbaik mereka di panggung global. Mereka menahan Portugal tanpa gol—sebuah hasil yang mengejutkan turnamen. Meski kemudian kalah dari Brasil, mereka bangkit dengan kemenangan retentang 3-0 atas Korea Utara, termasuk gol dari Yaya Toure. Sayangnya, empat poin dari laga-laga tangguh itu tetap tidak cukup untuk meloloskan mereka dari fase grup.
Brasil 2014 menjadi episode paling menyakitkan. Kemenangan meyakinkan 2-1 atas Jepang di laga pertama memberi harapan besar, dengan Wilfried Bony dan Gervinho sebagai pahlawan. Tapi kekalahan dari Kolombia yang dipimpin James Rodriguez memaksa mereka berjuang hidup-mati melawan Yunani di laga penentuan.
Dalam laga itu, Didier Drogba sempat membawa Les Elephants ke jalur yang benar. Namun penalti di menit ke-93 dari Georgios Samaras menghancurkan segalanya. Yunani lolos, Pantai Gading pulang dengan tangan hampa. Bagi generasi emas yang dipimpin Drogba dan Yaya Toure, itu adalah perpisahan yang pahit.
Drogba sendiri adalah sosok paling ikonik dalam sejarah Pantai Gading di Piala Dunia. Ia mencetak gol perdana Les Elephants di panggung itu—saat laga debut melawan Argentina pada 2006—dan selalu menjadi simbol perjuangan tim ini. Bersama Aruna Dindane, Bony, dan Gervinho, ia termasuk pemain yang dua kali menggetarkan jala lawan di turnamen ini.
Sementara Yaya Toure memegang rekor tersendiri yang tak mungkin terulang begitu saja: ia satu-satunya pemain yang tampil dalam seluruh sembilan pertandingan Pantai Gading di tiga edisi Piala Dunia—2006, 2010, dan 2014. Adik dari Kolo Toure itu menjadi simbol loyalitas dan konsistensi generasi emas tersebut.
Kini giliran generasi baru. Dengan Fofana, Adingra, dan kawanan muda berbakat di bawah arahan Fae yang sedang menanjak, Pantai Gading datang ke Amerika Utara dengan bekal terbaik yang pernah mereka miliki dalam satu dekade. Rekor kualifikasi tanpa kekalahan dan tanpa kebobolan bukan sekadar statistik—itu adalah deklarasi bahwa mereka siap.
Dua belas tahun menunggu. Kini saatnya Les Elephants membuktikan bahwa kali ini, babak gugur bukan sekadar mimpi.
FAQ
Kapan dan di mana Pantai Gading bertanding di Piala Dunia 2026?
Pantai Gading tergabung dalam Grup C dan akan bermain melawan Ekuador (14 Juni, Philadelphia), Jerman (20 Juni, Toronto), dan Curacao (25 Juni, Philadelphia).
Siapa pelatih Pantai Gading dan apa prestasinya?
Emerse Fae adalah pelatih Pantai Gading sejak Januari 2024. Ia berhasil membawa Les Elephants menjuarai Piala Afrika CAF 2024 dan meloloskan tim dengan catatan sempurna tanpa kekalahan dan tanpa kebobolan di kualifikasi Piala Dunia 2026.
Bagaimana sejarah Pantai Gading di Piala Dunia sebelumnya?
Pantai Gading telah tiga kali tampil di Piala Dunia—pada 2006, 2010, dan 2014—namun selalu terhenti di fase grup. Partisipasi di 2026 menjadi keikutsertaan keempat mereka dan kesempatan untuk pertama kalinya menembus babak 16 besar.


Tinggalkan Balasan