Rekam jejak Yakin bersama Swiss berbicara sendiri. Ia membawa tim lolos ke babak 16 besar Qatar 2022, meski harus menelan kekalahan menyakitkan 6-1 dari Portugal — laga yang masih membekas hingga sekarang. Namun ia tidak larut dalam kekecewaan. Pada EURO 2024, Swiss bangkit dengan menyingkirkan Italia sebagai juara bertahan sebelum akhirnya kandas dari Inggris lewat adu penalti di perempat final. Konsistensi di turnamen besar seperti inilah yang membuat Swiss tak bisa dianggap enteng.
Di Piala Dunia 2026, Swiss tergabung dalam grup yang cukup menantang. Mereka akan menghadapi Qatar pada 13 Juni di San Francisco Bay Area Stadium, disusul laga melawan salah satu dari Bosnia dan Herzegovina, Italia, Irlandia Utara, atau Wales pada 17 Juni di Los Angeles. Laga terakhir fase grup dijadwalkan melawan tuan rumah Kanada pada 24 Juni di BC Place, Vancouver. Jadwal yang padat dan lawan yang tak bisa diremehkan — persis situasi yang selama ini justru mengeluarkan sisi terbaik dari Swiss.
Berbicara tentang sejarah Swiss di Piala Dunia, nama Josef Hugi masih berdiri kokoh sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa dengan enam gol di edisi 1954. Di posisi kedua ada Xherdan Shaqiri dengan lima gol dari tiga penampilan, namun pemain berambut cepak itu sudah menyatakan pensiun dari tim nasional pada 2024. Artinya, peluang terbuka bagi generasi baru untuk mengukir nama mereka dalam sejarah.
Ricardo Rodriguez dan Granit Xhaka berbagi rekor penampilan terbanyak Swiss di Piala Dunia dengan masing-masing 12 laga. Keduanya telah tampil di tiga edisi — 2014, 2018, dan 2022 — dan jika keduanya kembali tampil di 2026, rekor itu akan semakin jauh.
Catatan sejarah Swiss di Piala Dunia sebenarnya cukup kaya, meski tak banyak orang membicarakannya. Mereka pernah mencapai perempat final tiga kali: pada 1934, 1938, dan 1954. Sejak kembali di 1994, Swiss melaju ke babak 16 besar dalam lima dari enam kesempatan — sebuah konsistensi yang bahkan lebih baik dari banyak negara yang lebih sering masuk halaman depan media olahraga internasional.
