BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Salah satu momen paling dramatis dalam sejarah sepak bola dunia pun melibatkan Swiss. Perempat final 1954 melawan Austria di Lausanne berlangsung dalam terik matahari lebih dari 40 derajat Celsius. Swiss sempat unggul 3-0, lalu kiper Austria Kurt Schmied mengalami sengatan matahari di babak pertama dan tak bisa diganti sesuai aturan saat itu. Ia berjalan limbung di antara tiang gawang, dan Swiss memanfaatkan situasi itu untuk mencetak tiga gol dalam delapan menit.

Namun drama belum usai. Seorang tukang pijat Austria nekat berdiri di belakang gawang, terus-menerus menyemprot Schmied dengan spons dan air dingin. Perlahan, Austria bangkit. Dari tertinggal 3-0, mereka membalikkan keadaan menjadi 5-3 dalam waktu 15 menit. Swiss mencetak dua gol lagi, Austria membalas dua gol — pertandingan berakhir 7-5. Hingga hari ini, laga itu tetap menjadi pertandingan dengan skor tertinggi dalam sejarah Piala Dunia.

Kemenangan terbesar Swiss di Piala Dunia juga tak kalah berkesan: dua kemenangan 4-1, pertama atas Italia pada 1954 di kandang sendiri, dan kemudian atas Rumania di Amerika Serikat 1994, ketika Alain Sutter, Stephane Chapuisat, dan Adrian Knup (dua gol) memastikan kemenangan bersejarah itu.

Kini, dengan kualifikasi sempurna, skuad yang matang, dan pelatih berpengalaman di bangku cadangan, Swiss tiba di Piala Dunia 2026 bukan sebagai tim pelengkap. Mereka datang dengan ambisi nyata — dan sejarah membuktikan, meremehkan Swiss di turnamen besar adalah kesalahan yang sering dibayar mahal.



Follow Widget

Published by Punggawa Sport

Editor

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version