BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

MAKASSAR, PUNGGAWASPORT – Portugal tiba di Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar sebagai peserta. Mereka datang membawa ambisi yang telah lama tersimpan, skuad yang matang secara kolektif, dan seorang kapten berusia 41 tahun yang masih lapar akan sejarah.

Ini bukan sekadar kisah nostalgia. Di bawah arahan Roberto Martínez, Portugal telah berevolusi menjadi tim yang lebih dari sekadar bergantung pada satu nama besar. Mereka memiliki kedalaman, keseimbangan, dan—untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama—sebuah proyek yang terasa lebih dari sekadar harapan.

Cristiano Ronaldo, sosok yang hampir tidak memerlukan perkenalan, akan melakoni Piala Dunia keenAmnya di Amerika Utara. Bagi banyak pengamat, ini adalah panggung terakhirnya di kompetisi terbesar sepak bola dunia. Namun bagi Ronaldo sendiri, pertanyaannya selalu sama: trofi mana yang bisa ia bawa pulang kali ini?

Portugal masuk ke dalam Grup yang mempertemukan mereka dengan Kolombia, Uzbekistan, dan salah satu dari Republik Kongo, Jamaika, atau Kaledonia Baru. Jadwal mereka dimulai pada 17 Juni di Houston, kemudian bertemu Uzbekistan pada 23 Juni, sebelum menghadapi Kolombia di Miami pada 27 Juni. Secara di atas kertas, fase grup ini dapat mereka lalui. Namun sepak bola tidak pernah dimainkan di atas kertas.

Roberto Martínez membawa filosofi permainan yang khas: penguasaan bola yang disiplin, transisi cepat, dan fleksibilitas taktis. Pelatih asal Spanyol ini membuktikan dirinya bukan sekadar manajer yang beruntung mendapat warisan generasi emas. Ia memiliki visi. Buktinya hadir ketika ia membawa Portugal menjuarai UEFA Nations League 2025—trofi pertamanya bersama skuad Selecao das Quinas, dan sebuah sinyal bahwa tim ini mampu tampil saat momen paling krusial.



Follow Widget

Published by Punggawa Sport

Editor

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version