Skuad asuhan Roberto Martinez memang dipenuhi talenta berlapis. Dari lini depan hingga belakang, kompetisi internal yang ketat membuat kedalaman pasukan Portugal terjaga dengan baik. Siapa pun yang diturunkan Martinez—dan ia masih merahasiakan susunan pemain hingga satu jam sebelum peluit awal—kualitasnya tidak jauh berbeda.
Motivasi Portugal pun bukan sekadar ambisi kolektif. Para pemain disebut-sebut menyimpan dorongan emosional yang kuat: keinginan mempersembahkan gelar untuk Ronaldo, sekaligus mengenang Diogo Jota yang telah tiada. Dua lapisan motivasi itu bisa menjadi bahan bakar ekstra di saat-saat krusial.
Di sisi lain, RD Kongo datang ke Houston dengan persiapan yang jauh dari meyakinkan. Dua uji coba terakhir tim berjulukan Leopards atau Si Macan Tutul itu berlalu tanpa satu pun kemenangan. Pelatih Sebastien Desabre tampak kesulitan menemukan formula terbaik timnya sebelum turnamen dimulai.
Lebih jauh, dukungan suporter RD Kongo turut terdampak. Sejumlah pendukung tidak bisa menyeberang ke Amerika Utara akibat wabah virus Ebola yang masih berlangsung di dalam negeri. Ini bukan kabar kecil—atmosfer di tribun bisa berpengaruh pada mentalitas pemain di lapangan.
RD Kongo kembali ke Piala Dunia setelah terakhir kali tampil pada 1974 atas nama Zaire—dengan catatan menyakitkan: tiga kekalahan, 14 gol kebobolan, dan nihil gol tercipta. Tiket ke putaran final kali ini diraih melalui kemenangan tipis atas Jamaika di play-off antarkonfederasi pada Maret lalu. Perjuangan panjang untuk bisa hadir, namun modal menghadapi Portugal terasa sangat terbatas.


Tinggalkan Balasan